Yusuf Zainal Abidin
UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keberagamaan dan Dakwah Tionghoa Muslim Yusuf Zainal Abidin
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 11, No 2 (2017): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies (Terakreditasi Sinta 2)
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v11i2.1884

Abstract

Research on the religious activities and da’wah of Chinese Muslims in Indonesia are still very minimal, even though this ethnic group also contributes to the spread of Islam in Indonesia. This study describes the diversity and propaganda of Muslim Chinese in the city of Bandung. With the case study method, we find out how the religious experience and da'wah of Muslim Chinese as a form of thought, deed and congregation. The results of the study revealed that diversity and da'wah among Muslim Chinese is a social act as part of religious experience in the form of (1) thought that religious diversity is not only limited to facts social that the Chinese ethnic are Muslims, but also felt and lived in the form of social interaction. (2) rites, da'wah activities for the ethnic Chinese need an initial study of their ancestral culture and (3) congregation in the form of support from external Chinese Muslims and the spirit of some of them to unite in the form of activities in the Laotze 2 mosque and in the Al-Imtizaj mosque Bandung.Kajian tentang keberagamaan dan dakwah Tionghoa Muslim di Indonesia masih sangat minim, padahal etnis ini juga turut memberikan kontribusi bagi penyebaran Islam di Indonesia. Penelitian ini menggambarkan keberagamaan dan dakwah Tionghoa muslim di Kota Bandung. Dengan metode studi kasus dicari bagaimana pengalaman keagamaan  dan dakwah tionghoa muslim sebagai bentuk pemikiran, perbuatan dan persekutuan Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keberagaman dan dakwah di kalangan Tionghoa Muslim merupakan tindakan sosial sebagai bagian dari pengalaman keagamaan berbentuk (1) pemikiran yaitu keberagamaan tidak  hanya terbatas pada fakta sosial bahwa etnis  Tionghoa beragama Islam, tetapi juga dirasakan dan dihayati dalam bentuk interaksi sosial. (2) ritus, kegiatan dakwah bagi etnis Tionghoa memerlukan kajian awal tentang budaya leluhur mereka dan (3) persekutuan berupa dukungan dari pihak eksternal Tionghoa Muslim dan semangat sebagian dari mereka untuk bersatu yaitu dalam bentuk aktivitas di masjid Laotze 2 maupun di masjid Al-Imtizaj Bandung.
Response of Cireundeu Indigenous Community to Modernization and Islamic Da’wah Yusuf Zainal Abidin
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 15, No 1 (2021): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v15i1.12659

Abstract

This article describes the dynamics of the indigenous people of Cireundeu in Cimahi with their specific systems in responding to the current modernization and Islamic da’wa activities. Using a qualitative approach, this article argues that the encounter of their traditions with modernization and Islamic da’wa activities which are new traditions, has made indigenous peoples syncretize through parochalization and universalization. Parochialization is carried out by adjusting outside traditional values through their symbols, while universalization is carried out by promoting their local values or practices such as food security into a broader norm. However, interactions with various other traditions have shown continuity in customary preservation and at the same time have shown discontinuity in symbolic matters, their norms, and practices as indigenous people.Artikel ini menguraikan tentang dinamika masyarakat adat Cireundeu di Cimahi dengan berbagai sistem spesifik yang dimilikinya dalam merespon arus modernisasi dan aktivitas dakwah Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, artikel ini berargumen bahwa perjumpaan tradisi mereka dengan modernisasi dan aktivitas dakwah Islam yang merupakan tradisi-tradisi baru telah membuat masyarakat adat melakukan sinkretitasi melalui parokialisasi dan universalisasi. Parokialisasi dilakukan dengan penyesuaian nilai-nilai tradisi luar melalui simbol-simbol mereka dan universalisasi dilakukan dengan mempromosikan nilai-nilai atau praktik-praktik lokal mereka seperti ketahanan pangan menjadi norma yang lebih luas. Namun demikian, interaksi dengan berbagai tradisi lain ini telah memperlihatkan kontinuitas dalam dalam pelestarian adat dan pada saat yang sama telah pula mempelihatkan gejala diskontinuitas pada hal-hal yang bersifat simbolik, norma dan praktik mereka sebagai masyarakat adat.