Keracunan merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia yang dapat diakibatkan oleh mikroorganisme. Salah satunya adalah bakteri Staphylococcus aureus yang menjadi satu dari bakteri terbanyak yang dijumpai pada pasien keracunan yang terbanyak di Indonesia. Oleh karena itu, intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan yang merupakan ancaman bagi masyarakat, terutama masalah resistensi terhadap antibiotik. Hal tersebut mendorong dilakukannya penelitian mengenai antibakteri alternatif seperti kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn). Kandungan zat aktif yang terdapat pada kulit buah manggis adalah Senyawa Xanthone. Kandungan senyawa Xanthone pada tanaman ini memiliki efek antioksidan, antimikroba, antikanker, antiinflamasi, aktivitas sitotoksin, dll. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah manggis terhadap bakteri Staphylococcus aureus. dengan konsentrasi 0,5%, 2%, 3,5%, 5% dan tanpa pelarut. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan metode uji sensitivitas (disc diffusion). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan daya hambat yang berbeda (p<0,05). Hasil penelitian didapatkan bahwa ekstrak etanol kulit buah manggis memiliki pengaruh antibakteri terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 0,5%, 2%, 3,5%, 5% dan tanpa pelarut dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 6,83 mm, 8 mm, 8,33 mm, 10,66 mm dan 16,66 mm. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn) tanpa pelarut memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn) dengan konsentrasi lainnya sehingga disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap biakan mikroorganisme lainnya.
Copyrights © 2021