Tulisan ini menyelidiki bagaimana pengetahuan pertanian diproduksi dan disirkulasikan di Hindia Belanda (1817-1942). Seluruh proses penulisan, dari pengumpulan data hingga analisis dari tulisan ini menggunakan metode sejarah. Tulisan ini membuktikan bahwa Model Basalla, yang mengatakan bahwa pengetahuan modern dimulai di Barat dan kemudian didifusikan ke wilayah lain (koloni) secara satu arah serta menempatkan orang-orang nonEropa sebagai pihak yang pasif menerima, benar secara sebagian. Pada mulanya, di Hindia Belanda, pengetahuan hanya dikembangkan oleh para ilmuwan Eropa. Sirkulasi sebagian besar merupakan proses satu arah. Pergeseran akhirnya terjadi selama periode Politik Etis, yang dipromosikan sebagai “kolonialisme yang layak.” Meskipun kebijakan tersebut memasukkan pendidikan sebagai salah satu tujuan utamanya, pemerintah tidak memiliki rencana untuk meningkatkan peran intelektual penduduk koloni sebagai produsen pengetahuan. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan pertanian disebarkan melalui lahan demonstrasi, sekolah pertanian, Departemen Pertanian yang baru didirikan, dan publikasi resmi dari Layanan Informasi Pertanian. Dapat dilihat dengan jelas bahwa penduduk lokal tetap menjadi kelompok pasif dalam sebagian besar proses ini.
Copyrights © 2020