Setiap orang yang menjalankan pelayanan gereÂja dalam kurun waktu yang panjang pasti berÂÂtanya apakah pelayanan tersebut sudah berjalan dengan baik, efektif, dan mencapai hasil yang maksimal. Ada dua ekstrem dalam merespons hal ini. Ada yang memandang bahwa pelayanan harus selalu sukses (successÂful) dengan tolok ukur peningkatan jumlah kehadiran, peningkatan jumlah persembahan, bahkan juga peningkatan jumlah orang yang bertobat dan dibaptis. Sebaliknya, ada pula yang secara ekstrem memandang bahwa tolok ukur kesuksesan dari hal-hal yang terlihat seÂcara fisik itu tidak dibenarkan, karena nilai terÂpenting yang harus dipertahankan adalah keÂseÂtiaan (faithfulness) dalam melakukan bentuk-bentuk pelayanan yang sudah ada seÂlama ini apa pun dan bagaimana pun hasilnya. Timothy Keller mengatakan bahwa dua pandangan ini sama-sama tidak utuh dan tidak cukup. Tentu saja, pelayanan rohani tidak dapat diukur semata-mata dari fenomena fisik atau hal-hal yang kasat mata, tetapi bukan berarti kompeÂtensi dan keunggulan (excellency) dalam seÂbuah pelayanan adalah hal yang tidak penting. Kita tidak dapat hanya menekankan “keseÂtiaÂan†dalam melakukan hal yang sama berulang-ulang jika memang hasilnya tidak efektif atau bahkan tidak terlihat.
Copyrights © 2021