Masalah penelitian ini adalah pada penerapan dualitas fungsi nyanyian akabeluk. Satu lagu nyanyian akabeluk dapat dinyanyikan dalam dua upacara yang berbeda yaitu acara syukur dan duka. Diketahui bahwa dalam nuansa duka nyanyiannya memiliki nuansa dan irama tersendiri, begitupun dengan nuansa bahagia. Ilmu Bentuk Analisa menjelaskan bahwa, nyanyian dalam nuansa duka mengandung pesan yang berbeda dengan nuansa syukur. Oleh sebab itu, mengapa nyanyian ini dapat digunakan dalam dua nuansa yang berbeda. Apa alasan yang mendasar sehingga nyanyian ini dapat digunakan dalam dua acara. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Memahami bentuk penyajian dalam nyanyian akabeluk dalam dualitas nyanyian persahabatan tersebut. 2) Memahami alasan nyanyian Akabeluk dapat dinyanyikan pada dua acara yaitu acara syukur dan acara duka. 3) Memahami dan mengerti prosesi dan nyanyian yang dilakukan dalam acara syukur maupun acara duka. Kajian tentang pelestarian akan kepunahan warisan budaya juga dibahas dalam penelitian ini. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nyanyian Akabeluk adalah nyanyian yang digunakan dalam dua nuansa yang berbeda. Prosesi nuansa duka terjadi atas “sebuah kesepakatan ritual adat” untuk melantunkan nyanyian tersebut, sedangkan nuansa syukur tidak ada kesepakatan melainkan nyanyian ini langsung dilantunkan. Nyanyian Akabeluk dibagi menjadi dua bagian yaitu “kananuk Rai lia dan “kananuk Ai tahan”. Kananuk Rai lian menceritakan tentang berdirinya tanah ini (nuansa syukur) sedangkan kananuk Ai tahan adalah nyanyian sindirin atau nyanyian kane’us malu (nuansa duka). Makna yang terkandung dalam nyanyian Akabeluk berdasarkan teori semiotika adalah sebagai seruan canda gurau, simbol kebersamaan dan juga sebagai ungkapan kiasan perasaan seseorang.
Copyrights © 2021