Filsafat dan bahasa atau filsafat bahasa kini menjadi suatu kajian tersendiri, mirip seperti suatu kajian keilmuan baru yang belum lama ada di dunia kajian ilmu pengetahuan modern. Berbagai alasan dan argumentasi terus disampaikan oleh para ahli dan pakar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini menjadi wajar adanya sama seperti dahulu seperti disiplin ilmu baru karena ternyata ia memiliki keistimewaan pembahasan tersendiri yang tidak sama dengan disiplin ilmu induknya yang lama. Seperti ilmu filsafat hukum yang memang berbeda dengan ilmu hukum, atau ilmu filsafat politik yang ternyata juga berbeda dengan ilmu politik, dan lain sebagainya. Setidaknya ada beberapa aspek berbeda yang mampu membuktikan bahwa filsafat bahasa merupakan kajian tersendiri dan layak menjadi suatu disiplin ilmu baru yang berbeda, baik dengan induknya yaitu filsafat dan bahasa, maupun dengan bukti-bukti lainnya. Namun demikian hal yang menjadi pokok bahasan di sini adalah sejauh mana relasi atau hubungan antara keduanya; filsafat dan bahasa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bersama sedikitnya ada tiga aspekĀ yang menyebabkan hubungan atau relasi antara keduanya itu muncul; pertama; memiliki hubungan sebab akibatĀ yang tak terelakan. Kedua dalam kajian filsafat analitik, secara analisis telah jelas memberikan gambaran bahwa benar secara analisis diantara keduanya memiliki hubungan yang erat. Ketiga adalah strukturalisme, yang secara umum dapat dikatakan bahwa karena ternyata dalam kajian kebahasaan memiliki susunan atau bangunan atau struktur tersendiri. Sehingga ini menjadikan kajian bahasa ini memiliki filosofi tersendiri dalam struktur kebahasaan, terutama di zaman modern ini yang menurut Ferdinan de Sausure semakin kentara bahwa bahasa memuat kajian filosofi tersendiri yang kemudian disebut dengan filsafat bahasa.
Copyrights © 2021