Mohamad Ramdon Dasuki
Universitas Pamulang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RELASI ANTARA FILSAFAT DAN BAHASA Mohamad Ramdon Dasuki
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 1, No 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Sasindo Unpam Vol.1 No.2 Mei 2021
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v1i2.14324

Abstract

Filsafat dan bahasa atau filsafat bahasa kini menjadi suatu kajian tersendiri, mirip seperti suatu kajian keilmuan baru yang belum lama ada di dunia kajian ilmu pengetahuan modern. Berbagai alasan dan argumentasi terus disampaikan oleh para ahli dan pakar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini menjadi wajar adanya sama seperti dahulu seperti disiplin ilmu baru karena ternyata ia memiliki keistimewaan pembahasan tersendiri yang tidak sama dengan disiplin ilmu induknya yang lama. Seperti ilmu filsafat hukum yang memang berbeda dengan ilmu hukum, atau ilmu filsafat politik yang ternyata juga berbeda dengan ilmu politik, dan lain sebagainya. Setidaknya ada beberapa aspek berbeda yang mampu membuktikan bahwa filsafat bahasa merupakan kajian tersendiri dan layak menjadi suatu disiplin ilmu baru yang berbeda, baik dengan induknya yaitu filsafat dan bahasa, maupun dengan bukti-bukti lainnya. Namun demikian hal yang menjadi pokok bahasan di sini adalah sejauh mana relasi atau hubungan antara keduanya; filsafat dan bahasa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bersama sedikitnya ada tiga aspek  yang menyebabkan hubungan atau relasi antara keduanya itu muncul; pertama; memiliki hubungan sebab akibat  yang tak terelakan. Kedua dalam kajian filsafat analitik, secara analisis telah jelas memberikan gambaran bahwa benar secara analisis diantara keduanya memiliki hubungan yang erat. Ketiga adalah strukturalisme, yang secara umum dapat dikatakan bahwa karena ternyata dalam kajian kebahasaan memiliki susunan atau bangunan atau struktur tersendiri. Sehingga ini menjadikan kajian bahasa ini memiliki filosofi tersendiri dalam struktur kebahasaan, terutama di zaman modern ini yang menurut Ferdinan de Sausure semakin kentara bahwa bahasa memuat kajian filosofi tersendiri yang kemudian disebut dengan filsafat bahasa.
KRISIS MINYAK GORENG KAJIAN FILOSOFI OLIGARKI DAN FILOSOFI NEGARA Mohamad Ramdon Dasuki
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 2, No 2 (2022): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SASINDO UNPAM VOL.2 NO.2 MEI 2022
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v2i2.22105

Abstract

Fenomena beberapa waktu lalu membuat seluruh mata terperangah, kata-kata singkat yang pantas ditujukan kepada para spekulan pasar minyak goreng mungkin; tega-teganya para pelaku pasar ekonomi dalam negeri ini permainkan harga hingga rakyat menengah ke bawah mengalami kesulitan untuk memperbaiki urusan dapur mereka setelah badai berturut-turut menimpa masyararakat menengah ke bawah ini. Setelah dua tahun lamanya diharuskan bekerja dan beraktifitas di dalam rumah saja karena lockdown termasuk anak-anak sekolahan dan kuliahan ikut turut di lockdown sehingga harus bertahan hidup di rumah saja, hingga tidak sedikit angota keluarga terkena PHK, dirumahkan, sepinya dunia usaha, pengurangan tenaga kerja, dan lain sebagainya sehingga krisis minyak goreng menjadi semakin komplit kesulitan dapur dan kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Berdasarkan fenomena inilah kiniscayaan kehadiran negara dalam hal ini pemerintah beserta aparatur negara yang terkait menjadi kemutlakan memunculkan beberapa pertanyaan besar karena peran para oligarki yang seringkali turut mewarnai. Penulis akhirnya menggarisbawahi di sini jika bangunan filosofi negara yang bercirikan keadilan sosial sedang dipertaruhkan berhadapan dengan bangunan filosofi para pengusaha yang bercirikan profit ekonomis sedang dipertontonkan di hadapan khalayak ramai.Kata Kunci: filosofi negara, filosofi oligarki, krisis minyak goreng
FILSAFAT BAHASA: STUDI BANDING POSISI ANTARA BAHASA INDONESIA DI INDONESIA, BAHASA ARAB DI AL-JAZAIR, DAN BAHASA INGGRIS DI AMERIKA SERIKAT Mohamad Ramdon Dasuki
Jurnal Sasindo UNPAM Vol 4, No 1 (2017): SASINDO UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.899 KB) | DOI: 10.32493/sasindo.v4i1.%p

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia adalah salah satu isi ikrar dan janji sumpah pemuda pada tahun 1928 yang nyaris hampir genap berumur satu abad atau seratus tahun lampau (minus 10 tahun jika dihitung saat ini 2018), adalah fenomena yang fenomenal sebenarnya bagi rakyat dan bangsa ini. Di tengah perjalanan bangsa dan negeri ini yang telah merdeka sejak tahun 1945 lampau, pernah diperjuangkan suatu slogan yang heroik; Satu Bangsa yaitu Bangsa Indonesia, Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia, dan Tumpah Darah Satu yaitu Tumpah Darah Indonesia. Bagi generasi muda saat ini bila tidak menelusuri perjalanan sejarah bangsa ini tentunya tidak akan mengetahui bahwa bahasa yang kita gunakan adalah bahasa Indonesia, tidaklah seperti saat ini bentuk dan susunannya yang sudah jauh baik dari masa-masa sebelumnya. Bahkan jika menengok sejarah lebih ke belakang, ada suatu ungkapan yang cukup menarik untuk disimak, negeri Indonesia ini memiliki dua hutang besar. Pertama kepada ummat Islam yang telah rela dan mengikhlaskan lima alinea ‘Piagam Jakarta’ untuk dihilangkan, demi utuhnya negeri yang masih muda belia ini, dan yang kedua hutang kepada suku Jawa, karena telah merelakan bahasa nasional yang akan digunakan oleh negeri yang akan lahir (pada saat itu) bukanlah bahasa Jawa yang memiliki penduduk mayoritas atau terbesar di wilayah Indonesia ini, tetapi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan demikian, sebenarnya menjadi unik seseorang berambut ikal dan berkulit hitam khas Papua dengan lancarnya berbahasa Indonesia, selancar orang Jawa yang masih menggunakan blangkon dan dialek jawanya yang masih kental, serta lancarnya orang Batak dengan aksennya yang masih kentara dengan logat Bataknya, dan suku-suku lain, tapi mampu berkomunikasi dengan bahasa persatuan mereka yang dapat saling mengerti satu dengan lainnya, yaitu Bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, fenomena dunia saat ini seperti media sosial yang telah menghubungkan antara manusia Indonesia satu dengan jutaan manusia Indonesia lainnya yang berada di ratusan bahkan mungkin ribuan pulau itu, mampu berkomunikasi dengan satu bahasa yang telah menyatukan antar mereka, yaitu bahasa Indonesia.Namun penulis menilai hampir sebagian besar dari kita semua ini tidak mampu memaknai nilai filosofi bahasa Indonesia itu sendiri, baik diantara berbagai bahasa daerah yang beragam di nusantara ini, maupun diantara bahasa dunia lainnya, seperti bahasa Arab atau Inggris misalnya. Ternyata bahasa Indonesia memiliki nilai historis maupun nilai filosofis tersendiri, yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai suatu kajian yang berkelanjutan agar para generasi muda mendatang dapat mengetahui posisi bahasa nasionalnya berada dimana jika dibandingkan dengan bahasa daerah-daerah yang beragam, dan bahasa nasional lainnya.Kata Kunci: Bahasa Indonesia, Nilai Filosofi, dan Bahasa Nasional
BENTURAN PERADABAN: BAHASA DAN BUDAYA DI KANCAH NASIONAL DAN GLOBAL MENCAPAI TITIK KULMINASI (ANALISA WACANA KRITIS) Mohamad Ramdon Dasuki
Jurnal Sasindo UNPAM Vol 10, No 2 (2022): Sasindo Unpam
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i2.59-66

Abstract

Isu benturan peradaban hangat diperbincangkan sejak Samuel Huntington bahas dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order  (disampaikan pada pidato tahun 1996) , dan Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man tahun 1992, hingga dibahasakan di forum-forum internasional pasca negeri super power Amerika Serikat dinyatakan memimpin dunia setelah jatuhnya rival utama blok timur Uni Sovyet runtuh. Berikutnya muncul kekuatan baru dunia yang akan menyaingi hegemoni barat yaitu kekuatan seperti Confucious-Budha (Cina, Jepang, Korea), Islam, dan lainnya.  Dengan kata lain sejak saat itu (runtuhnya Uni Sovyet) akan terjadi benturan peradaban  dunia antara kekuatan-kekuatan besar dunia. Kekuatan besar dunia seperti KristenYahudi Barat, Confucious-Budha (Cina, Jepang dan Korea), Islam (Timur-Tengah dan Asia), Hidhu-India, dan kekuatan-kekuatan lainnya akan saling bersaing dan berbenturan antara satu dengan lainnya. Perang wacana seperti fenomena perebutan kekuasaan atau saling mengklaim suatu wilayah atau suatu fakta tertentu seperti yang sekarang sedang berlangsung di wilayah: laut Cina selatan utara atau fakta kasus lama Palestina-Israel di tingkat dunia dengan diawali perang tagar sebelum penurunan kekuatan antara kekuatan yang bertikai. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk ketahui implikasi yang sulit dihindari dari dinamika perkembangan peradaban dunia dari zaman ke zaman yang menurut penulis adalah implikasi bahasa sebagai alat komunikasi baik lewat media massa maupun media sosial yang menjadi satu-satunya alat untuk mendefinisikan suatu realitas. Sebagaimana bahasa juga satu-satunya alat praktis dalam mengungkapkan nilai-nilai budaya sebagai arena pergulatan makna atau perang wacana. Dengan kata lain kemungkinan tergelincirnya penggunaan dari implikasi bahasa ini sangat terbuka sepanjang masa. Sementara kecenderungan dunia abad ke-21 diantaranya peran kelompok akan semakin menguat dibanding peran negara yang sebenarnya lebih luas dan dominan, semakin menggejala sehingga menambah frekuensi benturan peradaban di berbagai pelosok dunia semakin nyata. Baik itu kelompok suatu agama, kelompok organisasi massa, kelompok sosial berlabel ini dan itu akan semakin beragam lebih nyata mengemuka dalam kehidupan sosial saat ini. Oleh karena itu metode yang tepat hindari seringnya gesekan sosial yang seharusnya tidak perlu terjadi justeru kini seringkali terjadi oleh karena sebab sepele yang diawali dengan celetukan omongan, celotehan di medsos, saling sindir lempar ucapan kata-kata hingga akhirnya menjadi alasan untuk menyerang kelompok lain hingga menjatuhkan pihak lain.Hasil dari kesimpulan fenomena seperti tersebut di atas atau penggunaan bahasa yang tidak tepat menjadi penyebab suatu tawuran, bentrokan, saling adu mengadu ke pihak berwajib hingga pengerahan massa dan usaha menjatuhkan suatu rezim misalnya. Fenomena yang sebelumnya relatif masih jarang ini terjadi sebelum semaraknya alat komunikasi seperti Handphone atau telepon genggam ini dipegang oleh sebagian besar masyarakat tak terkecuali dari sejak anakanak hingga orang tua kini telah dijajah oleh gudjet atau hp. Baik dalam bentuk WA, facebook. Twitter, instagram, messenger atau telegram semakin massif dan tak terhindarkan lagi baik dalam skala lokal, nasional, bahkan internasional tak terkecuali.
Representasi Nilai Bahasa, Sastra dan Politik dalam Definisi Wilayah Sengketa Palestina-Israel (Kajian Poskolonialisme) Mohamad Ramdon Dasuki
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i1.5284

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan posmodernisme dan poskolonialisme dalam perspektif bahasa, sastra, dan politik. Sebagaimana posmodernisme dan poskolonialisme bertujuan untuk menghasilkan sebuah penelaahan dan pemahaman dari karya bahasa, sastra, politik yang lebih utuh, dan tidak terikat lagi oleh struktur teks. Sementara metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisis isi. Dengan asumsi yang demikian itu, maka baik posmodernisme maupun poskolonialisme lebih berusaha untuk melihat sebuah karya bahasa, sastra, dan politik dari berbagai sisi yang ada. Hasilnya; Posmodernisme dengan keras menolak segala penjelasan apa pun yang harmonis, universal dan konsisten, sebagaimana yang menjadi semangat kabur dalam semangat modernitas. Adapun simpulannya kajian dalam bidang poskolonialisme mencakup seluruh khazanah tekstual, khususnya karya bahasa, sastra, dan politik yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang seperti persoalan definisi wilayah sengketa antara Palestina dengan Israel.