Latar belakang. Komplikasi dari HD dapat menyebabkan adekuasi dosis optimal tidak tercapai dimana hal tersebut dapat meningkatkan angka mortalitas penderita PGK yang sedang menjalani terapi HD, IDH merupakan komplikasi yang serius dan tersering dari tindakan HD, Pendataan tentang IDH belum ada di Kalbar walaupun sudah memiliki sarana rujukan untuk terapi HD. Metode. Penelitian ini bersifat studi deskriptif dengan pendekatan observasional dan desain potong lintang. Sampelnya adalah seluruh pasien PGK yang menjalani terapi HD di RSUD dr. Soedarso Pontinak. Pendataan dilakukan secara bertahap dengan wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi berkala saat HD dilakukan. Hasil. Jumlah sampel sebanyak 81 orang, jenis kelamin terbanyak laki-laki (54%), usia terbanyak berada pada rentang usia 52-59 tahun (36%), status gizi terbanyak berstatus gizi baik (48%), lama HD terbanyak berkriteria lebih dari 2 tahun (53%), frekwensi HD terbanyak berfrekwensi 2 kali/minggu (95%), durasi HD persesi terbanyak 4 jam (67%), jumlah UF terbanyak berkriteria 3,5-4 liter (30%), gambaran tekanan darah terbanyak hipertensi (90%), gambaran perubahan MAP terbanyak ditemukan MAP meningkat (49%), dan ditemukan kejadian IDH sebesar 12%. Kesimpulan. Angka kejadian IDH di RSUD dr. Soedarso Pontianak sebagai rumah sakit rujukan untuk terapi HD di provinsi Kalbar ditemukan sebesar 12%.
Copyrights © 2018