Penelitian yang bertujuan untuk menentukan kualitas jagung pada sentra produksi jagung di Indonesia ini dilaksanakan pada tahun 2017-2019. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan sampel dipilih berdasarkan metode stratified random sampling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa mutu jagung di Indonesia adalah fluktuatif. Kandungan aflatoksin pada sampel 0,05 μg/kg sampai 976,25 μg/kg dan kandungan biji pecah serta rusak 0 sampai 34,4%. Kontaminasi aflatoksin yang berada di atas 150 μg/kg (batas maksimum pada SNI) sebanyak 5% dari total sampel. Pada beberapa provinsi, kandungan aflatoksin, kadar air, biji rusak dan biji pecah tidak masuk dalam persyaratan mutu jagung yang terdapat pada SNI. Peningkatan mutu jagung belum menjadi prioritas bagi petani dan pedagang. Hal ini disebabkan karena belum adanya insentif terhadap proses pascapanen yang menjaga mutu hasil produksi. Fasilitasi sarana yang berupa mesin pascapanen diberikan pemerintah kepada petani bertujuan untuk mengurangi losses. Namun, kualitatif losses belum sesuai dengan target yang diinginkan. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pembuat kebijakan untuk keberhasilan pelaksanaan program di masa yang akan datang.
Copyrights © 2021