Yohanes Calvin (1509-1564) adalah figur penting di balik perkembangan Gereja Protestan. Salah satu dari sejumlah sumbangannya yang penting ialah terkait dengan gagasan dan pendekatannya terhadap Kitab Suci. Menurutnya, Alkitab sebagai Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri. Alkitab memang berwujud sebuah buku dengan tulisan yang berciri manusiawi, namun keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari inspirasi Roh Kudus. Penafsiran atas Alkitab yang memuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan keduanya ini memiliki kedudukan yang setara boleh dilakukan oleh siapa saja; tak ada satu pihak pun yang berhak meng-klaim sebagai penafsir tunggal. Calvin menekankan perlunya pendalaman atas teks dan konteks, sebagaimana itu dulu juga dikembangkan oleh para penulis Injil dan penulis surat-surat Perjanjian Baru dalam berhadapan dengan teks-teks Perjanjian Lama. Dengan ini, menurutnya, penafsiran Alkitab akan selalau bersifat majemuk dan tidak mandeg dalam acuan masa lalu saja.
Copyrights © 2010