Permasalahan dalam penelitian ini adalah di eraglobalisasi saat ini masyarakat masih melaksanakan tradisi-tradisi yang diluar akal pemikiran manusia. Seperti mandi syafar masyarakat Daik masih melaksanakan tradisi mandi syafar yang diyakini masyarakat setempat bahwa dengan melakukan ritual mandi pada bulan Syafar ini masyarakat akan terhindar dari marabahaya seperti banjir, longsor, dan wabah penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan mandi syafar dan makna dari tradisi mandi syafar yang ada di Kelurahan Daik Kecamatan Lingga Kabupaten Lingga. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Keseluruhan data tersebut diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dengan menggunakan model interaktif dari Miles and Huberman yaitu, data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verification (gambar kesimpulan dan verifikasi). Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa tradisi mandi syafar di Kelurahan Daik Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau mempunyai pelaksanaan dan peralatan yang berbeda dari daerah lain. Mandi syafar dilakukan pada hari Rabu terakhir berdasarkan dalam kitab Taklika. Peralatan yang digunakan yaitu wafak yang ditulis di atas daun macang, tempayan yang tebuat dari keramik, gayung dari batok kelapa, Kelapa satu ikatan, jari lipan, kris dan bunga telur. Pada pagi hari masyarakat akan pergi ke masjid untuk melaksanakan doa bersama dan setelah bedoa masyarakat akan pergi ke sungai ketika sudah sampai di sungai pemuka agama menulis wafak di atas daun macang, kemudian pemuka agama menyimpan daun macam kedalam tempayan yang sudah berisikan air dan pemuka agama penyiram kepada anak-anak atau orang-orang. Makna tradisi mandi syafar adalah bagaimana hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan manusia, agar manusia lebih menjaga lingukungan
Copyrights © 2020