Masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan gempa. Pertemuan lempengan plat tektonik mengakibatkan resiko terjadinya gempa semakin besar. Gempa yang tidak terduga mengakibatkan perlunya pembaharuan code. Dalam kurun waktu 20 tahun, peta gempa Indonesia sudah mengalami 3 kali revisi. Dari ketiga revisi tersebut, grafik respon spektrum juga mengalami perubahan. Penelitian ini menggunakan accelerogram Bucharest. Lokasi bangunan ada di yogyakarta. Jumlah lantai ada 3 buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh respon spektrum dari peta gempa terhadap Peak ground acceleration. Berdasarkan respon spektrum tahun 2002 menghasilkan peak ground acceleration 0,25g. respon spektrum tahun 2010 menghasilkan peak ground acceleration 0,41g. respon spektrum tahun 2017 menghasilkan peak ground acceleration 0,38g Ujicoba analisa bangunan 3 lantai dengan diberi pembebanan accelerogram Bucharest yang termodifikasi dengan respon spektrum tahun 2002, menghasilkan defleksi maksimum 3,2 cm sedangkan dengan respon spektrum tahun 2010, menghasilkan defleksi maksimum 4,8 cm dan dengan respon spektrum tahun 2017, menghasilkan defleksi maksimum 5,9 cm. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu pertama Semakin besar nilai C pada respon spektrum, nilai Peak ground acceleration belum tentu semakin besar. Kedua, Semakin besar nilai C pada respon spektrum, simpangan bangunan akan semakin besar. Ketiga, Semakin besar nilai simpangan pada bangunan, belum tentu diakibatkan dari nilai peak ground acceleration yang tinggi.
Copyrights © 2020