Budaya adalah warisan luhur yang lahir di masyarakat dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat Jawa, budaya unggah-ungguh sangat kental dan menjadi ciri khas yang dikenal secara umum. Ungguh ungguh merupakan sikap menghargai, yang dimunculkan dalam perkataan, sikap maupun perilaku. Di era globalisasi saat ini, degradasi moral pada usia remaja nampak lewat perilaku kurang menghargai orang yang lebih tua, tutur kata yang kurang sopan dan sikap yang kurang santun. Apabila hal ini dibiarkan maka generasi berikutnya akan kehilangan identitas sebagai masyarakat jawa dengan budaya unggah-ungguhnya. Gereja sebagai salah satu lembagai penyemai nilai-nilai spiritual dan moral perlu berperan dalam penanaman nilai unggah-ungguh. Demikianlah yang dilakukan oleh Gereja Pantekosta di Indonesia Penggung Boyolali. Serangkaian cara mereka upayakan dalam rangka menginternalisasikan budaya unggahungguh di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitif untuk mengupas masalah penelitian yang ada. Untuk mendapatkan data yang valid maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yaitu Wawancara, Observasi lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang dipakai adala triangulasi data sumber. Dengan demikian objektifitas data dapat dipertahankan. Dari hasil penelitian, didapati bahwa Gereja Pantekosta di Indonesia Penggung Boyolali melakukan upaya internalisasi budaya unggah-ungguh di gereja lewat Pengajaran, Pengamalan dan Keteladanan.
Copyrights © 2021