Kasus yang terjadi di kota Ambon tahun 2014 dengan tingkat API (Annual Parasite Indence) sebesar 4,31% disebabkan karena kondisi geografis yang mempengaruhi proses perkembangan vektor nyamuk secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepadatan dan perbedaan larva nyamuk Culicidae dan Anophelidae pada daerah perbukitan dan dataran rendah dengan hubungan kejadian malaria dan filariasis di Kota Ambon. Sampel penelitian diambil dengan sistem acak (Random Sampling) dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Analisis kepadatan larva nyamuk diukur dengan menggunakan beberapa indikator yakni House Indeks, Container Indeks, Breteau Indeks dan Larval Density Indeks. Analisis perbedaan kepadatan larva nyamuk diuji dengan one way annova dan untuk melihat hubungan kondisi fisik dengan kejadian malaria dan filariasis diuji dengan chi square menggunakan SPSS versi 20. Hasil uji one way annova menyebutkan bahwa Fhitung (2,346) > F tabel (002), artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kepadatan larva nyamuk pada daerah perbukitan dan dataran rendah di Kota Ambon. Uji chi square juga menunjukkan bahwa nilai p < 0,05 artinya terdapat hubungan antara kondisi fisik terhadap kepadatan larva dan terdapat hubungan antara kepadatan larva dengan kejadian malaria dan filariasis di Kota Ambon. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kepadatan larva nyamuk pada dataran rendah lebih tinggi daripada daerah perbukitan, terdapat perbedaan antara kepadatan larva pada daerah perbukitan dan dataran rendah dan terdapat hubungan antara kondisi fisik dengan kepadatan larva serta terdapat hubungan antara kepadatan larva dengan kejadian malaria dan filariasis di Kota Ambon Provinsi Maluku
Copyrights © 2021