Latar belakang: Stroke adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi saraf otak. Data di Amerika Serikat menunjukkan pada tahun 2008 stroke merupakan penyebab kematian keempat pada orang dewasa dan penyebab kecacatan dalam jangka waktu panjang. Gejala paling khas adalah cenderung mengalami hemiparesis atau kelemahan otot. Salah satu yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot pasien strok adalah dengan melalukan latihan gerak atau disebut juga dengan range of motion (ROM). Tujuan: Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh Range of Motion (ROM) terhadap kekuatan otot ekstrimitas pada pasien stroke. Metode: Desain yang digunakan penelitian adalah Quesi_Experimental dengan pendekatan one group pre post test designe. Jumlah sample sebanyak 10 orang dengan menggunakan teknik Purposive Sampling Alat pengumpulan data pada peneliian ini menggunakan lembar observasi. Analisis data meggunakan paired t tes. Hasil: Hasil penelitian menunujukkan bahwa responden sebagian besar berumur >60 tahun (60%), berjenis kelamin laki-laki (50%) dan perempuan (50%), dan semuanya menderita stroke non hemoragik. Sebelum dilakukan terapi ROM, derajat kekuatan otot pasien termasuk kategori derajat 0 hingga derajat 2. Dan sesudah dilakukan terapi ROM, derajat kekuatan otot pasien termasuk kategori derajat 2 hingga derajat 4. Simpulan: Terdapat perbedaan (peningkatan) derajat kekuatan otot pasien sebelum dan sesudah terapi ROM dengan nilai p = 0,000< 0,05. Terapi ROM dinyatakan efektif dalam meningkatkan kekuatan otot ekstremitas penderita stroke
Copyrights © 2020