Banyak penggiat sastra yang berasal dari kepingan latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan pembeda itu ketika ditarik antara garis berlawanan akan bertemu pada satu titik temu kesamaannya. Begitu pula eksistensi seorang Buya Hamka pada mimbar sastra Indonesia yang sering kali mengangkat usul tanah kelahiran maupun adat istiadat Minang pada setiap terbitan karyanya. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar stigma kaum awam terhadap seorang Buya Hamka yang diakui dominasinya sebagai sastrawan sekaligus ulama dalam memanggul garis keturunan pada adat tanah kelahiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang memprioritaskan kualitas data dengan pendekatan kajian pustaka. Penelitian ini menghasilkan perspektif baru yang disajikan kepada penikmat sastra, bahwa Buya Hamka memang dijuluki sebagai sastrawan sekaligus dihormati sebagai ulama. Selain itu penelitian ini, membuktikan bahwa seorang Hamka terindikasi memiliki sifat etnosentrisme dibuktikan dengan kearifan lokal yang disajikan dalam ketiga karyanya, yaitu novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Terusir, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.
Copyrights © 2021