Jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) di Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara yaitu 61% dengan angka Total Fertility Rate (TFR) 2,6. Namun untuk pemilihan metode, hanya 18,6% yang memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Sasaran utama program KB adalah kelompok unmeet need dan ibu nifas. KB pasca persalinan adalah upaya strategis dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan TFR. Namun cakupan KB pasca persalinan hanya 13,27% dan masih disominasi penggunaan non MKJP. Situasi ini juga ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar B kota Medan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan pemilihan metode kontrasepsi pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar B kota Medan, meliputi usia ibu nifas, jarak persalinan terakhir, jumlah anak, pengetahuan tentang alat kontrasepsi, ketersediaan pelayanan KB MKJP gratis, dan konseling KB pasca persalinan oleh bidan. Jenis penelitian yaitu explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar B kota Medan mulai Agustus- Desember 2018 yaitu 74 orang. Menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square (α=0,005). Hasil penelitian yaitu variabel yang berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi adalah umur (sig=0,019), jumlah anak (sig=0,046), jarak persalinan (sig=0,024), pengetahuan tentang alat kontrasepsi (sig=0,017), ketersediaan pelayanan MKJP gratis (sig=0,014) dan konseling KB pasca persalinan dengan pemilihan metode kontrasepsi (sig=0,045). Disarankan agar agar ibu nifas lebih menggunakan MKJP dan pada petugas kesehatan di wilayah kerja puskesmas simalingkar B lebih meningkatkan upaya promosi, KIE, dan konseling MKJP pada ibu nifas sehingga cakupan pelayanan KB MKJP pada ibu nifas dapat terus meningkat.
Copyrights © 2019