Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER

PENERAPAN PENDEKATAN PRAGMATIS: BENTUK MENGIKUTI FUNGSI DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR INDUSTRI YANG EKOLOGIS

Christina Ferlenthya Puwardi (Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara)
Priscilla Epifania Ariaji (Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara)



Article Info

Publish Date
03 Feb 2022

Abstract

One way to overcome plastic waste is to take advantage of technological developments, without ignoring ecological awareness, to process waste before disposal. The process can be done by recycling plastic waste as raw material for production and using plasma gasification to convert recycling leftovers into electrical energy. Along with the usage of waxworm as decomposers, these methods require a building that accomodates the process, and the building is commonly referred as industrial architecture. Eco-industrial architecture should be able to take responsible decisions in every stage of its existence (planning, construction, maintenance, demolition). This main principle is embraced by the Khanah Kufu: Plastic Waste Processing Facility in Bantar Gebang. Pragmatic approach can be used to design this plastic waste processing facility with form following its function. The success of designing eco-industrial architecture can be achieved through the following design considerations: (1) space and volume requirements; (2) space relations; (3) accessibikity and circulation. It is expected that by using this method, design results are able to achieve its goal to overcome the problem of plastic waste without producing new emissions and waste, even when the building is no longer used. Keywords:  Eco-industrial architecture; form follow function; functional; pragmatic approach; recycle, gasification, and decompositionAbstrakSalah satu cara mengatasi permasalahan sampah plastik adalah dengan kesadaran ekologis memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengolah sampah tersebut sebelum dibuang. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan mendaur ulang kembali sampah plastik yang masih baik untuk digunakan kembali sebagai bahan baku produksi atau menggunakan metode gasifikasi plasma untuk mengubah sampah plastik yang sudah tidak baik menjadi energi listrik. Disertai dengan ulat lilin sebagai representasi alam sebagai pengurai, metode-metode pengolahan ini tentunya membutuhkan suatu bangunan yang memfasilitasi berjalannya proses , dan bangunan itu biasa disebut sebagai arsitektur industri. Arsitektur industri sebaiknya ramah lingkungan dan bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil, baik dalam perencanaan, pembangunan, hingga perawatan. Prinsip utama ini dianut oleh dalam proyek Khanah Kufu: Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik di Bantar Gebang. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk perancangan arsitektur industri fasilitas pengolahan sampah plastik ini adalah pendekatan pragmatis dengan metode bentuk mengikuti fungsi. Keberhasilan perancangan arsitektur dengan metode ini dapat dicapai melalui pertimbangan perancangan berikut: (1) kebutuhan volume ruang; (2) hubungan antar ruang ; (3) aksesibilitas dan sirkulasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, hasil perancangan arsitektur industri pengolah sampah plastik dapat mencapai tujuannya untuk menghentikan permasalahan sampah plastik tanpa menghasilkan emisi karbon serta sampah yang baru, bahkan saat bangunan sudah tidak lagi digunakan dan dihancurkan. 

Copyrights © 2021






Journal Info

Abbrev

jstupa

Publisher

Subject

Civil Engineering, Building, Construction & Architecture Engineering Social Sciences

Description

Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur ...