Karya sastra dianggap sebagai media kritis bagi pengarang untuk menampilkan gagasan dan narasi sejarah yang dimuat dalam novel. Gagasan kritis dalam konflik yang dihadirkan pada novel tentunya menjadi bagian penting dalam memahami konstansi sejarah lokal, khususnya sejarah politik Timor Timur. Novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi menggambarkan kondisi yang terjadi di Timor Timur, khususnya daerah Oetimu. Penelitian ini menggunakan kajian New Historicism, yaitu menyejajarkan teks sastra dengan teks nonsastra. Prosedur penelitian ini meliputi: (1) teknik pembacaan paralel, yaitu melakukan pembacaan teks sastra dengan teks nonsastra; (2) analisis dilakukan dengan penyajian data dan pembahasan. Analisis yang digunakan dengan mengkaji novel Orang-Orang Oetimu dan disejajarkan dengan teks-teks nonsastra yang berkaitan dengan peristiwa sejarah yang terdapat di dalamnya. Hasil analisis yaitu masa penjajahan Belanda, Portugis, dan Jepang, perebutan kekuasaan wilayah Timor Timur pada September 1975 yang disebut Operasi Seroja, yaitu pasukan khusus Indonesia di bawah pemerintahan Soeharto. Peristiwa-peristiwa pemberontakan, perebutan kekuasaan, kefanatikan tiga faksi (UDT, Apodeti, dan Fretilin), saling menuduh komunis, deklarasi sepihak Fretilin, persekutuan UDT dengan Indonesia, penolakan putusan tewasnya lima wartawan asing, swasembada pangan dan diskriminasi pangan, penangkapan Xanana Gusmão, Pelanggaran HAM yang dilakukan militer Indonesia terhadap warga lokal Timor Timur yang digambarkan di dalam cerita.
Copyrights © 2021