Mengunjungi lokasi yang bernilai sejarah agar peserta didik tak jenuh sekaligus dijadikan metode pembelajaran sejarah (visiting area/VA) sangat bermanfaat bagi pemahaman pesan sejarah. Hal ini dengan dalih, mengurangi kebosanan peserta didik jika hanya belajar (sejarah) di kelas dan meyakinkan peserta didik bahwa peristiwa masa lalu benar-benar terjadi. Area yang dikunjungi dapat di museum, makam, atau lainnya. Hal ini perlu dilakukan dengan pertimbangan, berdasarkan temuan United States Agency for International Development (USAID), kurang lebih sepertiga pelajaran yang diobservasi di kelas jenjang tingkat dasar hingga perguruan tinggi (PT) masih didominasi model ceramah. Hal itu berdampak proses belajar tak berjalan kreatif, tak efektif, dan tak menyenangkan. Metode pembelajaran sejarah di sekolah harus diubah/disesuaikan jika tak inovatif agar lebih menyenangkan dan tak membosankan peserta didik. Siswa tak hanya menghafalkan isi buku teks sejarah dan tak memahami latar belakang sejarah tertentu. Mata pelajaran sejarah harus disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan dan tak harus secara konvensional di kelas. Metode pembelajaran meliputi pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran berpusat pada anak (Child-centered learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Berbekal fasilitas lembaga pendidikan berupa bus sekolah/kampus, laboratorium, lahan-ladang praktek, atau lainnya peserta didik dapat dengan mudah menggunakan fasilitas tersebut untuk menunjang proses pembelajaran. Di antara tempat yang ideal didatangi adalah museum. Hal yang dapat dipetik, peserta didik yakin dengan kebenaran peristiwa sejarah karena dapat membuktikan secara langsung peninggalan sejarah. Dengan metode âanjangsana dan praktekâ diharapkan peserta didik tak jenuh dengan lingkungan monoton.
Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah dan VA
Copyrights © 2010