Paradigma pendidikan mulai bergeser dari berfokus pada guru ke berfokus pada siswa.
Pergeseran ini terjadi karena berkembangnya teori psikologi yang dijadikan dasar pendekatan dalam
pendidikan. Ada dua teori psikologi yang dijadikan dasar dalam pendekatan pendidikan modern, yaitu psikologi
kognitif dan psikologi konstruktivisme. Psikologi kognitif berasumsi bahwa (a) setiap anak secara kodrati
telah dibekali dengan innate (bakat bawaan) untuk berkembang, (b) kognisi anak berkembang secara bertahap
sesuai dengan perkembangan usia kronologisnya, (c) setiap anak yang belajar selalu mengandung
kebermaknaan Atas dasar asumsi itu, (d) anak dapat berkembang bakatnya sesuai dengan perkembangan
kognitifnya. Sejalan dengan itu, psikologi konstruktivisme juga berasumsi bahwa setiap anak mampu
mengkonstruk kebenaran berdasarkan perkembangan kognisinya asal mendapatkan iklim yang kondusif. Karena
itu, yang terpenting dalam belajar bagi anak adalah iklim yang kondusif yang dapat diberikan oleh guru.
Atas dasar asumsi psikologi kognitif dan psikologi konstruktivisme di atas, siswa harus diberi porsi
lebih banyak untuk beraktivitas dalam belajar. Premis ini memberikan pesan bahwa setiap guru harus merancang
skenario pembelajaran yang memungkinkan anak dapat beraktivitas belajar sebanyak mungkin. Skenario
pembelajaran yang memungkinkan anak dapat belajar adalah (a) dengan memilih metode yang mampu
mengaktifkan belajar siswa, (b) dengan memilih media pembelajaran yang memungkinkan anak mudah menyerap
informasi, (c) dengan memberikan sumber belajar yang autentik, (d) dengan memilih materi yang kontekstual,
dan (e) dengan memberikaan atmosfir agar anak mampu belajar secara bermakna. Berdasarkan asumsi di
atas, sebenarnya yang memegang peran penting dalam pembelajaran tetap guru tetapi peran itu diberikan
kepada anak agar mereka lebih banyak aktif untuk belajar.
Substansi pergeseran paradigma pendidikan di atas tidak berarti bahwa guru semakin berkurang
perannnya dalam pembelajaran, tetapi justru sebaliknya. Pada waktu pembelajaran masih berfokus pada
guru, guru cukup mempersiapkan pembelajaran untuk dirinya dan kemudian menyampaikannya kepada siswa.
Namun, ketika pembelajaran berfokus pada siswa, tugas guru bertambah banyak, yaitu (a) merancang materi
pembelajaran, (b) merancang strategi pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswa, (c) menentukan metode
pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, (d) merancang media pembelajaran untuk mempermudah
penyerapan informasi, (e) merancang pendampingan siswa selama belajar, (f) merancang rubrik penilaian
proses belajar siswa, (g) merancang tes hasil belajar siswa, (h) mempersiapkan materi lebih banyak jika ada
siswa yang lebih maju dalam belajar, dan lain-lain.
Meskipun paradigma pendidikan bergeser, kendali pembelajaran tetap ada pada guru tetapi sebagian
peran guru dialihkan kepada siswa. Siswa tidak hanya menyerap informasi dari guru sebagai sumber belajar
tetapi dapat menyerap informasi dari berbagai sumber belajar baik yang disediakan guru atau usaha siswa
sendiri memperoleh informasi dari berbagai sumber belajar yang lain
Copyrights © 2014