Label âBandungâ pada pameran seni telah digunakan semenjak periode 1950-an dan pada gilirannya menggeserpemahaman terhadap istilah tersebut. âBandungâ tidak hanya dimaknai sebagai batasan geografis (kota) melainkansebagai diskursus estetik. Melalui kajian kuratorial dengan fokus pendekatan kuratorial terhadap tawaran wacana estetik pameran, penggunaan label Bandung pada periode 2000-an berkaitan dengan sejarah seni rupa Bandung yang dianggap sebagai âanomaliâ di tengah praktik seni rupa Indonesia. Pameran-pameran tersebut berupaya untuk membingkai ulang identitas âBandungâ dengan tawaran wacana estetik yang dapat dibaca melalui teorisasi seni posmodern, atau kajianestetik yang melampaui modernisme. Elaborasi wacana estetik pada pameran dilakukan melalui pendekatan kuratorial yang berbeda-beda, antara lain: elaborasi teoretis atau historis. Bandung pada periode 2000-an tidak diidentifikasi melalui diskursus estetik tunggal, melainkan beragam. Keberagaman/pluralitas tersebut dapat dijelaskan melalui konsep seperti alegori, representasi seni, penumpukkan teks, dekonstruksi tanda, dan lainnya.
Copyrights © 2013