Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk anorganik dan pupuk hayati terhadap N-total, P-tersedia, dan pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Juni 2014 di rumah kasa kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran di Ciparanje, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dengan ketinggian tempat ± 835 m diatas permukaan laut. Rancangan yang digunakan berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua belas perlakuan (NPKMg 100%; NPKMg 100% + Azotobacter chroococcum 20 mL, Pseudomonas cepaceae 15 mL, FMA 10 g, Azotobacter chroococcum 20 mL + Pseudomonas cepaceae 15 mL, dan Azotobacter chroococcum 20 mL + FMA 10 g; NPKMg 50%; NPKMg 50% + Azotobacter chroococcum 20 mL, Pseudomonas cepaceae 15 mL, FMA 10 g, Azotobacter chroococcum 20 mL + Pseudomonas cepaceae 15 mL, dan Azotobacter chroococcum 20 mL + FMA 10 g) yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk anorganik dan pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah, jumlah daun pada umur 12 MST, derajat infeksi akar, dan bobot kering bibit kelapa sawit (Elangeis guineensis Jacq.) di pembibitan awal. Penggunaan Azotobacter chroococcum, Pseudomonas cepaceae, dan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) cenderung berpotensi mengurangi penggunaan pupuk NPKMg (15:15:6:4) hingga 50% pada pembibitan awal kelapa sawit.
Copyrights © 2014