Penelitian ini memiliki latarbelakang adanya inkulturasi dalam penyampaian misi agama (Katolik) di Suku Dayak Jangkang. Inkulturasi pontok urank (patung orang) menjadi simbol Salib, berhasil dengan indikator terkonversinya anggota Suku Dayak Jangkang dengan agama lama (agama nenek-moyang) menjadi 90,4% Katolik. Salah satu bukti konkritnya inkulturasi ditemukan simbol Salib yang didirikan di setiap akan masuk dan keluar desa atau kampung Suku Dayak Jangkang. Namun, diera global ini model inkulturasi agama mulai menghadapi tantangan, yakni hanya generasi tua (Katolik Tradisional) saja yang masih beranggapan bahwa bentuk inkulturasi semacam itu diperlukan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana pengumpulan data melalui wawancara (indeep interview) pada narasumber seperti pastor, katekit, umat Katolik (generasi tradisional dan generasi muda), dengan pengolahan data secara deskritif. Simpulan hasil penelitian ini menggambarkan: 1) terjadi pergeseran makna pesan inkulturasi melalui pontok urank (patung orang) menjadi simbol Salib. Pergeseran dimaksud adanya pemaknaan baru makna kedua simbol, yang lebih cenderung mulai kurang bersifat sakral menjadi rutinitas keagamaan; 2) signifikannya bentuk tantangan komunikasi inkulturasi pontok urank (patung orang) menjadi simbol Salib era global. Generasi muda cenderung beranggapan bahwa pesan agama (inkulturasi) perlu dilakukan secara modern dalam konteks era digital.
Copyrights © 2022