Berangkat dari kegelisahannya atas ketidakseimbangan metode penafsiran Al-Quran kontemporer, Sahiron mengkonstruksi sebuah pendekatan dalam menafsirkan Al-Quran yang mengakulturasi pendekatan klasik Ulumul Quran dengan Hermeneutika. Metode yang ia susun bernama Ma’na cum Maghza. Ketidakseimbanan yang dimaksud adalah tidak memberikan perhatian yang sama terhadap makna asal literal (al-ma’na al-ashli) dan pesan utama (signifikansi; al maghza) di balik makna literal. Ma’na cum Maghza seprti yang diungkapkan Sahiron sendiri adalah metode penafsiran Al-Quran yang mana seseorang menggali makna sejarah yang original (Ma’na) yang dipahami oleh audiens pertama dan mengembangkan makna tersebut pada signifikansinya (Maghza) untuk diterapkan pada masa kontemporer. Penafsiran dengan metode Ma’na cum Maghza tidak bisa dilakukan sembarangan. Seseorang harus memiliki ilmu pengetahuan yang linear yang melatarbelakanginya. Langkah kongkrit dalam penafsiran dengan pendekatan Ma’na cum Maghza dilakukan melalui dua tahap. Pertama, yaitu mencari Ma’na (makna asal ayat). Ma’na secara etimologi berarti “arti”. Adapun secara istilah untuk Ma’na disini berarti makna asal atau makna literal historis dari ayat. Kedua, menentukan Maghza (Signifikansi ayat). Maghza secara etimologi berarti maksud, tujuan, dan signifikansi. Adapun secara istilah dalam metode ini, Magza berarti pesan utama ayat yang sedang ditafsirkan. Metode ini praktis dan siap untuk diaplikasikan, tentunya oleh orang yang kompeten, dalam ilmu bahasa arab, sejarah, linguistik dan beberapa ilmu pendukung tafsir. Metode ini menjadi penting untuk dikenalkan kepada mufassir generasi kontemporer agar produksi corak tafsirnya tidak literalis-tekstualis, namun kontekstualis.
Copyrights © 2022