Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan model analisis Gramscian, teori dan konsep komunikasi politik tentang kualitas komunikasi politik, media massa, dan berdasarkan teori hegemoni Antonio Gramsci atas aliansi jaringan organisasi, hegemoni-counter hegemoni, feminis radikal, dan media massa dengan dasar otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas perempuan dalam komunikasi politik parlemen di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Ditemukan bahwa rata-rata dari anggota perempuan di parlemen jauh dari ideal. Situasi menunjukkan kurangnya pengalaman politik, kaderisasi, dan pengetahuan di antara perempuan anggota parlemen. Keterbatasan ini memiliki konsekuensi terhadap komunikasi politik yang sedang berlangsung karena pengaruh budaya patriarki, dan hal itu menunjukkan keengganan partai politik dalam memberdayakan perempuan. Mereka memiliki masalah dengan tingginya biaya publikasi media. Di sisi lain, media tidak sepenuhnya melakukan gerakan counter hegemoni. Situasi ini secara fundamental krusial bagi perempuan karena tingginya kebutuhan untuk melakukan perubahan besar.
Copyrights © 2012