PublikA, Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Vol 5, No 3 (2016): PublikA, Volume 5 Nomor 3 Edisi September 2016

IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN SELAKAU TIMUR

RYAN IRFIAN NIM. E01112034 (fisip)



Article Info

Publish Date
08 Dec 2016

Abstract

Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja “Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Pertambangan Rakyat Di Kecamatan Selakau Timur yang belum terlaksana secara optimal. Belum optimalnya implementasi kebijakan tersebut terlihat dari timbulnya permasalahan yang ada di lapangan seperti masih terdapatnya pengelolaan pertambangan rakyat yang dikelola secara ilegal dan tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Pertambangan Rakyat dan adanya aktivitas PETI menyebabkan kerusakan lingkungan di antaranya lahan pertanian, perkebunan, aliran sungai, kawasan hutan dan lain sebagainya. Untuk menganalisis permasalahan yang terjadi, maka penulis menggunakan teori Van Metter dan Van Horn sebagai pisau analisis. Teori Van Metter dan Van Horn diharapkan mampu memberikan gambaran dan penilaian sejauh mana para pelaksana kebijakan melaksanakan tujuan yang telah ditetapkan dalam kebijakan tersebut. Ada enam variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi menurut Van Metter dan Van Horn yaitu ukuran dan tujuan kebijakan, sumberdaya, karakteristik agen pelaksana, sikak/kecenderungan (disposition) para pelaksana, komunikasi antar organisasi dan aktivitas pelaksana serta kondisi sosial, ekonomi dan politik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi kebijakan sehingga tujuan yang ingin dicapai belum terealisasi dengan baik. Pertama, sumberdaya manusia yang belum memadai menyebabkan sulitnya untuk melaksanakan penjabaran tugas pokok, fungsi dan kewenangan dari para pelaksana kebijakan. Kedua, karakteristik agen pelaksana yaitu kinerja struktur birokrasi yang dirasakan lambat dalam pembuatan izin baik izin wilayah pertambangan rakyat  (WPR) ataupun izin pertambangan rakyat (IPR) menyebabkan aktivitas pengelolaan pertambangan rakyat menjadi kegiatan yang ilegal. Ketiga, komunikasi antar organisasi dan aktivitas pelaksana yaitu proses penyampain isi dan tujuan kebijakan dari para pelaksana kebijakan ke target group yang belum dilaksanakan secara menyeluruh menyebabkan informasi yang beredar hanya ke sebagian kelompok masyarakat  tertentu. Keempat, kondisi sosial, ekonomi dan politik yaitu adanya pertentangan antara tujuan kebijakan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang ada di masyarakat menyebabkan kebijakan sulit untuk implementasi secara maksimal.Kata-kata Kunci: Implementasi, Kebijakan, Pertambangan, Rakyat

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

publika

Publisher

Subject

Social Sciences

Description

Publika adalah jurnal akses terbuka, dan peer-review. Tujuan utama kami adalah untuk menyebarluaskan artikel terkini dan asli dari para peneliti dan praktisi tentang berbagai masalah sosial dan politik kontemporer: kebijakan publik, administrasi pembangunan, manajemen ...