ABSTRAK: Telah dilakukan ekstraksi dan identifikasi metabolit sekunder kulit batang Gelumpang (Sterculia foetida L.) dengan metode maserasi dan penapisan fitokimia menggunakan metode Ciulei. Kulit batang Gelumpang dimaserasi menggunakan pelarut n-heksan, DCM, metanol dan air. Gelumpang banyak digunakan sebagai obat sembelit dan encok. Untuk mendukung pemakaian secara empirik maka pada penelitian ini dilakukan uji penapisan metabolit sekunder dan uji aktivitas antibakteri terutama pada Staphyococcus aureus secara in vitro. HasilÃÂ penapisan menunjukkan ÃÂ kandungan kimia dariÃÂ ekstrak kulit batang Gelumpang adalah tanin, minyak atsiri, sterol, triterpen, kumarin dan flavonoid. Hal ini diperkuat dengan data KLT (eluen n-heksan:DCM = 8:12). Ekstrak kulit batang Gelumpang mempunyai daya antibakteri terhadap S.aureus dengan diameter daerah hambat (DDH) 2,4 mmÃÂ ÃÂ ÃÂ (n-heksan); 4,6 mm (DCM);ÃÂ 7,4 mm (metanol) dan 1,7 mm (air). Kata kunci; Gelumpang, Penapisan fitokimia, KLT, S. aureusABSTRACT: Extraction and identification of secondary compound Gelumpang (SterculiaÃÂ ÃÂ ÃÂ foetida L.) stem bark by maseration and screening phytochemical (Ciulei method) were carried out. Maseration using n-hexane, dichloromethane (DCM), methanol and aquadest were employed. Gelumpang are often used as traditional medicine for stomach upset or colic andÃÂ rheumatic. To support this utilization, this experiment was done to analyse the secondary compounds and to test antibacterial activity of Staphyococcus aureus. The results show that secondary compounds in Gelumpang extract were tannin, essencial oil, sterol, triterphenoid, cumarin and flavonoid. This is supported by TLC data (eluen n-hexane:DCM = 8:12). Gelumpang stem bark extract has antibacterial activity on S. aureus. This was shown by 2,4 mm (n-hexane); 4,6 mm (DCM); 7,4 mm (methanol) and 1,7 mm (aquadest) of the diameter of inhibition area.Key Words; Gelumpang, screening phytochemical, TLC, S. aureus
Copyrights © 2010