Penelitian ini bertujuan merekonstruksi kebijakan ekonomi Jepang di Sulawesi Selatan tentang pertanian padi. Menganalisis proses implementasi kebijakan ekonomi pertanian padi. Menjelaskan akibat dari kebijakan sosial ekonomi pertanian padi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Pendudukan Jepang di Sulawesi Selatan berkaitan dengan upaya Jepang untuk menguasai Asia Timur Raya dengan ideologi fasis yakni Satu Negara, Satu bangsa, Satu Pemimpin. Slogan ini mengantar bagsa Jepang menduduki daearh-daerah sekitar Sulawesi yang dicitrakan bahwa sesungguhnya Sulawesi Selatan tidak mengalami serangkaian kebiakan Jepang dalam Ekonomi. Argumentasi ini didukung oleh beberapa sejarawan seperti Meztika zed, bahwa menurutnya Sulawesi Selatan hanya dijadikan sebagai daerah pertahanan bagi serangan sekutu. Akan tetapi argumentasi tersebut tidak sepenuhnya benar, karena melihat fakta yang ada, bahwa Sulawesi Selatan yang merupakan pertahanan dari infiltrasi sekutu, hanya mempunyai 2 daerah pertahanan yakni di Tator dan Makassar. Sementara daerah Slawesi Selatan ketika itu memilki 6 Ken kanrikan dan 25 Bunken kanrikan. Ada beberapa pusat pertahanan yang dibangun Jepang di beberapa tempat seperti Pinrang dan Bantaeng, tetapi tidak selesai. Mereka hanya membentuk pusat pertahanan sementara. Pembentukan tentara Heiho dan Seinendan yang relative sedikit, membuktikan bahwa daerah Sulawesi Selatan sepenuhnya bukan tempat ofensif bagi Jepang. Keberadaan Jepang di Sulawesi selatan dipengaruh oleh kondisi eksternal dan internal yakni pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kedua faktor itu, mengiring Jepang menguasi daerah-daerah yang mampu menopang upaya militernya di Asia. Faktor penting bagi Jepang ketika berkuasa di Sulawesi Selatan adalah pemanfaatan sumber daya alam. Pemanfaatan ini diprioritaskan pada upaya pemenuhan beras / padi guna kelangsungan hidup tentara militernya.
Copyrights © 2022