Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konsep pengenangan sejarah Gereja Toraja pada masa kekuasaan DI/TII dalam bentuk ibadah peringatan. Ibadah peringatan ini menjadi ruang bagi para saksi yang masih hidup untuk menyatakan kesaksian imannya yang merasakan penyertaan Allah dalam melalui berbagai penderitaan pada masa kekuasaan DI/TII—mengingat selama ini mereka belum pernah diberi ruang atau kesempatan untuk menyatakan kesaksian imannya itu. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis. Pendekatan historis-teologis yang dipakai dalam tulisan ini memperlihatkan aspek-aspek penting dari ibadah peringatan. Ibadah tidak hanya menjadi simbol perayaan karya keselamatan Allah bagi umat manusia, namun di dalamnya umat juga menampakkan kehadiran gereja serta ajarannya bagi dunia. Demikian halnya melalui ibadah peringatan terbebasnya Gereja Toraja dari kekuasaan DI/TII dapat terselenggara koinonia (persekutuan), martyria (kesaksian), kerygma (pemberitaan Injil), serta didache (pengajaran). Melalui ibadah peringatan terbebas dari kekuasaan DI/TII, Gereja Toraja maupun umat Kristen lainnya dapat mengenang sejarah penderitaan pada masa DI/TII dan merefleksikan penyertaan Allah.
Copyrights © 2022