Realitas sosial penduduk Australia yang beragam kultur, etnis, dan agama sebagai implikasi terbukanya kebijakan imigrasi di tahun 1960-an telah mendorong pemerintah Australia untuk melakukan rekayasa sosial politik dengan bertujuan untuk meredusir konflik nilai dan norma yang saling bertentangan antara masyarakat; kulit putih di satu pihak dan para pendatang di pihak lain. Australia tampaknya berhasil mengelola berbagai konflik yang diindikasikan dengan rendahnya beragam potensi kekerasan politik, etnik, dan keagamaan, termasuk terorisme, bila dibandingkan dengan negara lain, khususnya negara-negara tetangganya.
Copyrights © 2005