Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
Vol. 6 No. 1 (2022): April

Tari Greget Sawunggaling sebagai ikon kota Surabaya

Hanidar Fejri Diagusty (Universitas Negeri Surabaya)
Setyo Yanuartuti (Universitas Negeri Surabaya)
Eko Wahyuni Rahayu (Universitas Negeri Surabaya)



Article Info

Publish Date
28 Apr 2022

Abstract

Surabaya sebagai bagian dari etnis Arek memiliki budaya yang beragam dan khas, salah satunya dalam seni tari terdapat tari Greget Sawunggaling yang menjadi ikon kota Surabaya. Sebagai visualisasi tokoh Sawunggaling yang  menjadi ikon kota memunculkan rumusan masalah bagaimana fenomena pada tari Greget Sawunggaling sehingga menjadi ikon kota dan mengapa tari Greget Sawunggaling dapat menjadi ikon kota. Dari rumusan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fenomena Greget Sawunggaling sehingga menjadi ikon kota dan menjabarkan alasan tari Greget Sawunggaling dapat menjadi ikon kota Surabaya. Adapun metode pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif melalui kajian identitas. Metode untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data di mana dalam pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi, serta observasi. Hasil dari penelitian ini sebagai kajian interdisiplin dikupas secara teks maupun konteks kajian tari. Dalam teks ditemukan adanya karakterisasi dari transformasi Remo gaya Suroboyoan dan pemaknaan simbol bentuk sajian yang dilihat secara ikonografis maupun semiotika. Secara kontekstual dikupas dari historis fenomenologi dan nilai-nilai yang sesuai dengan pandangan hidup Arek Suroboyo yang meliputi nilai kepahlawanan, Pendidikan, dan ketrampilan yang menjadikan tari ini sebagai ikon kota Surabaya. Kesimpulan penelitian ini adalah kesesuaian tokoh Sawunggaling yang diangkat dalam karya tari ini dengan karakter dan pandangan hidup arek Suroboyo sehingga dapat menjadi identitas budaya.   Surabaya as part of the Arek ethnic group has a diverse and distinctive culture, one of which is the Greget Sawunggaling dance which is an icon of the city of Surabaya. As a visualization of the Sawunggaling character who became an icon of the city, it raises the formulation of the problem of how the phenomenon in the Greget Sawunggaling dance becomes an icon of the city and why the Greget Sawunggaling dance can become an icon of the city. From this formulation, the purpose of this research is to reveal the phenomenon of Greget Sawunggaling so that it becomes an icon of the city and to describe the reasons why Greget Sawunggaling dance can become an icon of the city of Surabaya. The method of this research approach is descriptive through identity studies. The method to check the validity of the data is done by triangulation of data where the data collection is done by interviews and documentation, as well as observation. The results of this study as an interdisciplinary study are described in the text and context of dance studies. In the text, it is found that there is a characterization of the Remo transformation in the Suroboyoan style and the meaning of the symbol of the form of the dish which is seen both iconographically and semiotically. Contextually, it is analyzed from historical phenomenology and values ​​that are in accordance with Arek Suroboyo's view of life which includes the values of heroism, education, and skills that make this dance the city of Surabaya. The conclusion of this study is in accordance with the Sawunggaling character who was appointed in the work of art with the character and way of life of the Suroboyo arek so that it can become a cultural identity.

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

JICC

Publisher

Subject

Arts Humanities

Description

Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim ...