Tulisan ini membahas mengenai akulturasi santri di pondok pesantren. dalam perspektif hubungan pesantren dengan santri, paling tidak ada tiga keuntungan pragmatis yang dimunculkan oleh pesantren. Pertama, dimensi kultural. Kehidupan seorang santri di pesantren ternyata seringkali dihiasi dengan prinsip hidup yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersamaan melalui sesama manusia. Kedua, dimensi edukatif. Pesantren mampu menghasilkan calon pemimpin agama (religious leader) yang piawai menaungi kebutuhan praktik keagamaan sosial masyarakat sekitar, hingga aktifitas kehidupannya mendapatkan berkah dari Tuhan. Ketiga, dimensi sosial. Keberadaan pesantren seakan telah menjadi semacam “community learning centre” (pusat kegiatan belajar masyarakat) yang berfungsi menuntun masyarakat hingga memiliki life style agar hidup dalam kesejahteraan. Paradigma penelitian ini adalah paradigma kualitatif, dengan jenis penelitian studi kepustakaan/literatur. Studi kepustakaan/literatur pada dasarnya menyajikan/memaparkan hasil kajian pustaka yang diolah berdasarkan argumentasi dan penalaran keilmuan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sumber pustaka untuk bahan kajian dapat berupa buku teks, jurnal penelitian, skripsi, laporan penelitian, proceeding seminar dan lain-lain asal masih memenuhi kriteria keilmuan/ilmiah. Kata kunci : Akulturasi, Santri, Pesantren
Copyrights © 2021