Di akhir tahun 2019 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem mencanangkan kebijakan Merdeka Belajar untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi. Satu pertanyaan penting yang menyusul dari diterapkannya kebijakan baru Merdeka Belajar adalah seberapa jauh kebijakan ini dapat berdampak dan bertahan? Mengingat tren selama enam belas tahun ini, dimana pembaruan-pembaruan kurikulum berbasis kompertensi tersebut tidak dapat berjalan secara optimal. Berkaitan dengan permasalahan optimalisasi ini, Teori Kritis Habermas mungkin dapat dijadikan pedoman alternatif. Tujuan dari esai ini adalah untuk membuka wacana bahwa melalui Teori Kritis Habermas, kebijakan Merdeka Belajar dapat diimplementasikan secara efektif dan memiliki dampak yang berkelanjutan, sehingga tidak bersifat temporer.
Copyrights © 2021