Pembangunan infrastruktur pariwisata menyebabkan alih fungsi lahan atau konversi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi kawasan ekonomi pariwisata. Pemanfaatan kawasan mangrove sebagai daya tarik ekowisata perlu dimonitoring secara berkala agar pembangunan sarana dan prasarana tidak mengancam keberlanjutan vegetasi mangrove. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi sebaran mangrove menggunakan model normalized difference vegetation index (NDVI), normalized difference water index (NDWI), combined mangrove recognize index (CMRI) di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Perspektif ekowisata berkelanjutan digunakan untuk mendiskusikan konteks sosio-kultural masyarakat Morotai khususnya masyarakat Pulau Kolorai. Penelitian ini mengadopsi metode campuran. Pengolahan data terbagi menjadi dua tahap yakni: tahap pertama, pemetaan sebaran mangrove Pulau Dodola menggunakan citra satelit Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) dari tahun 2013-2021 berdasarkan kalkulasi NDVI, NDWI, dan CMRI; tahap kedua, trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2017, terjadi penurunan nilai NDVI dan CMRI di Zona 1, Zona, 2, dan Zona 3 sebagai kawasan ekowisata mangrove Pulau Dodola.. Hal ini menunjukkan adanya ancaman ekosistem mangrove apabila pembangunan infrastruktur menyebabkan penurunan nilai indeks vegetasi secara signifikan dari tahun ke tahun. Dengan demikian, diperlukan program pengendalian terhadap program pembangunan infrastruktur dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pemeliharaan ekosistem mangrove.
Copyrights © 2022