Permintaan bawang putih di Indonesia cenderung meningkat, tetapi kurang dari lima persen dari permintaan tersebut dipenuhi oleh produksi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing bawang putih Indonesia dan mengidentifikasi faktor penentunya. Data yang digunakan adalah data usahatani bawang putih yang diperoleh dari Sensus Pertanian 2013-Badan Pusat Statistik (BPS), yang terdiri dari 121 sampel petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan 98 petani di Provinsi Jawa Tengah. Metode Policy Analisis Matrix (PAM) digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif dan kompetitif yang dikelompokkan sesuai dengan tingkat efisiensi teknis produksi yang diperkirakan oleh metode Data Envelopment Analysis (DEA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bawang putih Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif hanya sebesar 55 persen dari total sampel dari usahatani bawang putih. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif bawang putih secara signifikan ditentukan oleh efisiensi teknis produksi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa daya saing bawang putih Indonesia peka terhadap perubahan produktivitas dan harga output. Daya saing tertinggi dicapai melalui perubahan signifikan pada produktivitas bawang putih lokal. Kebijakan pemerintah terkait harga input dan harga output menyebabkan petani membayar harga input yang lebih rendah dan menerima harga output yang lebih tinggi dari harga sosialnya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum bawang putih Indonesia tidak kompetitif untuk di produksi di dalam negeri. Bawang putih dapat di produksi secara domestik sebagai produk substitusi impor jika di produksi dalam produktivitas tinggi dan usahatani yang efisien secara teknis. Saran dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan usahatani bawang putih disertai dengan perbaikan dalam efisiensi teknis produksi.
Copyrights © 2022