Pada setiap orang dewasa yang menjadi orangtua menginginkan agar anaknya terlahir dalam keadaan sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Namun beberapa orang tua harus mendapati bahwa anaknya lahir dan tumbuh dengan kondisi tunarungu. Anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan gangguan tunarungu adalah individu yang mengalami masalah pada fungsi pendengarannya. Penerimaan orangtua terhadap Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan fakta sosial yang berlaku di masyarakat dengan berbagai dimensi penerimaan, salah satunya adalah penerimaan dalam dimensi budaya. Artikel ini mengungkap bagaimana penerimaan dari orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus dalam dimensi Budaya di Kota Samarinda. Artikel ini adalah hasil penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan life history method. Informan penelitian ditentukan secara purposive untuk mendapatkan hasil dari subjek dengan kriteria yang telah ditentukan, yakni orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (Tunarungu). Kajian ini secara komprehensif menganalisis pernyataan subjek untuk menggali dimensi budaya yang menjadi argumentasi atas penerimaan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus (Tunarungu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat subjek menunjukkan respon yang positif pada penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus dengan komposisi indikator penerimaan yang berbeda. Sebagian besar subjek memenuhi semua indikator penerimaan yang terdiri dari empat indikator, yakni: pertama, pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak; kedua, pandangan orang tua terhadap anak; ketiga, usaha membantu perkembangan anak; dan keempat, pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Secara garis besar orangtua menerima keadaan, namun tidak memenuhi indikator penerimaan dalam aspek pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak karena tidak memiliki preferensi tentang kelebihan yang dimiliki oleh anaknya. Melalui kajian ini diharapkan ada langkah-langkah progresif dalam mengkampanyekan pemahaman, wawasan dan pengetahuan akan penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus dalam dimensi budaya.
Copyrights © 2022