Proses pembuatan batik terbagi menjadi 5 tahapan. Tahap pertama adalah penulisan pola pada kain mori, tahap kedua adalah pembatikan atau pelekatan lilin (malam) pada kain mori, tahap ketiga adalah proses pewarnaan, tahap keempat adalah penjemuran, tahap kelima adalah proses peleburan lilin dari kain batik. Setiap dari proses pembuatan batik memiliki bahaya pada pekerja. Sehingga diperlukan evaluasi pada lingkungan kerja dan identifikasi bahaya proses pembuatan batik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja dan menerapkan metode HIRADC pada proses pembuatan batik. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Penelitian ini dianalis deskriptif yaitu menggambarkan dan mendiskripsikan suatu keadaan. Populasi penelitian penelitian ini adalah semua pengrajin batik tulis di Kampung Batik Jetis Sidoarjo yang berjumlah 9 orang. Identifikasi bahaya yang dilakukan pada proses pembuatan batik telah ditemukan 7 potensi bahaya yang dapat menimbulkan 15 risiko. Hasil Penilaian berdasarkan risk assessment yaitu, risiko ekstrim (extreme risk) sebanyak 3 jenis bahaya (20%), risiko tinggi (high risk) sebanyak 10 jenis bahaya (66,67%), risiko sedang (moderate risk) sebanyak 2 jenis bahaya (13,3%). Suhu dan kelembapan di tempat produksi batik pada semua industri melebihi nilai ambang batas, Identifikasi bahaya yang dilakukan pada proses pembuatan batik telah ditemukan 7 potensi bahaya yang terdapat semua aktivitas kerja yang dapat menimbulkan 15 risiko, Analisis Risiko menghasilkan 3 jenis bahaya extreme risk, 10 jenis bahaya high risk, 2 jenis bahaya moderate risk. Saran dari peneliti yaitu melakukan perbaikan sarana dan prasana pada ventilasi dan local exhaust van, serta penggunaan APD pada pekerjaan yang memiliki risiko.
Copyrights © 2020