Sebelum datangnya kolonialisme, bahasa Melayu sudah menyebar ke seluruh Nusantara dan berbagai tempat di Asia Tenggara. Saat itu, bahasa Melayu tak hanya menyerap unsur bahasa asing, tetapi mulai memengaruhi pula bahasa-bahasa lokal. Bahasa Melayu tidak hanya menjadi bahasa perdagangan tetapi juga bahasa teknologi dan bidang-bidang lainya. Datangnya kolonialime, membuat peran bahasa Melayu semakin menjadi penting. Pemakaian bahasa Melayu tersebut digambarkan dalam cerpen-cerpen Iksaka Banu yang terkumpul dalam Teh dan Penghianat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan 6 cerpen sebagai objek materialnya, di antaranya cerpen “Kalabaka”, “Teh dan Pengkhianat”, “Kutukan Lara Ireng”, “Belenggu Emas”, “Nierke de Flinder”, dan “Tawanan”. Penelitian ini mencoba melihat bagaimana perkembangan bahasa Melayu dan peran bahasa Melayu dalam cerita dengan latar masa kolonial. Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa pemerintah kolonial menggunakan bahasa Melayu sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaannya di berbagai tempat di seluruh nusantara baik dalam rangka membuka daerah-daerah baru maupun mempertahankan daerah-daerah yang sudah dikuasai.Kata Kunci : Kolonialisme, bahasa Melayu, Kumpulan Cerpen Teh dan penghianat
Copyrights © 2022