Gambaran Allah dalam doktrin Monoteisme Trinitarian (Kristen) dan Monoteisme Tauhid (Islam) menunjukkan adanya keunikan dan perspektif yang beragam dalam setiap agama. Adanya kritik terhadap doktrin Monoteisme Trinitarian dari teolog Islam yang didasarkan dari pemahaman Monoteisme Tauhid memerlukan keterbukaan dari kaum Kristen untuk berdialog agar konsep Trinitas dapat dipertanggungjawabkan , karena pada dasarnya kekristenan meyakini Monoteisme. Pemaparan mengenai kritik terhadap Monoteisme Trinitarian akan didasarkan dari pemikiran Teolog Islam (Abu Isa al-Warraq dan Abd al-Jabbar), yang mendasarkan argumen kritiknya terhadap Trinitas dalam tiga garis besar, yaitu kritik dari Quran, perkembangan doktrin Trinitas sebagai wujud penyelewengan sabda Yesus, dan adanya penyelewengan rasional dalam formula doktrin Trinitas klasik. Selanjutnya untuk menjawab kritik tersebut, penulis mengadopsi pola nalar Yin-Yang yang merupakan pemikiran dari seorang teolog Asia (Jung Young Lee) dan telah digunakan sebagai metode teologis untuk menjelaskan berbagai persoalan teologis. Pola nalar Yin-Yang menjernihkan doktrin Monoteisme Trinitarian lebih bersifat inklusif, holistik, relasional dan dinamis. Dengan demikian, paper ini menunjukkan bahwa dalam konteks pluralitas agama, maka pengembangan dialog bukan saja menyangkut masalah sosial, tetapi juga menyangkut konsep ketuhanan, dengan cara menemukan mediasi, kesejajaran dan titik temu di dalamnya. Kata-Kata Kunci: Pluralitas, Monoteisme, Tauhid, Trinitarian, Yin-Yang, Dialog
Copyrights © 2022