Cumi-cumi salah satu bahan makanan yang mudah rusak sehingga dibutuhkan bahan pengawet untuk memperpanjang masa simpan. Selain bahan makanan yang berasal dari laut di Indonesia juga terdapat bahan makanan lain yang bisa dimanfaatkan sebagai pengawet alami, diantaranya adalah biji picung dan garam. Biji picung/kluwek terdapat kandungan tanin yg termasuk senyawa poliifenol yang alamiah. Senyawa fenoliik ini bermanfaat menghambat perkembangan pada microba yaitu perubahan melalui permeabilitas di dinding pada selnya. Garam termasuk salah satu bumbu pokok yang dimanfaatkan masyarakat di Indonesia sebagai penambah rasa. Garam bisa menarik cairan yang terdapat dalam tubuh cumi-cumi maupun pada bakteri. Proses ini akan menyebabkan penghambatan aktivitas biologis pada bakteri bahkan juga dapat mnegakibatkan kematiannya. Skema penelitian yaitu desain Rancangan Petak Terpisah/RPT (Split Plot Design). Empat waktu pengamatan (hari 1,2,3, dan 4) adalah petak utama dan anak petak adalah 4 penambahan cairan larutan laktat (0 persen, 25 persen, 50 persen,dan 75 persen). Hasil penelitian ini yaitu campuran biji picung dan garam sebagai pengawet pada cumi-cumi. Waktu marinasi biji picung dan garam berpengaruh terhadap daya simpan cumi-cumi, banyaknya konsentrasi juga berpengaruh terhadap daya simpan cumi-cumi, interaksi waktu simpan dan banyaknya konsentrasi juga berpengaruh terhadap daya simpan. Berdasarkan hasil analisis, banyaknya konsentrasi penambahann biji picung sebanyak 75 persen dan garam 15 persen dapat memperhambat pembusukan pada cumi dengan waktu pengamatan selama 4 hari
Copyrights © 2022