AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh studi kasus terhadap pertunjukan teater Tiga Perempuan. Sebagai suatu pertunjukan, Tiga Perempuan memiliki potensi untuk diangkat menjadi sebuah karya film. Perubahan dari media panggung ke layar film ini bisa disebut alih wahana merupakan sumber gagasan awal yang dapat direspon oleh para sutradara. Tiga Perempuan berangkat dari isu ketahanan budaya. Perempuan sebagai pelaku dalam kesenian saluang dendang diangkat menjadi gagasan kekaryaan dengan merangkai alur konflik menggunakan tahapan multiplot. Perubahan ini dapat dilihat bagaimana kontruksi sinematografi dan mise-en-scene yang dapat digunakan. Menggunakan teori film dan alih wahana, maka pilihan dan tawaran yang memungkinkan dalam merespon pertunjukan teater tersebut salahsatunya, menggunakan data kualitatif yang telah didapatkan di lapangan, sehingga perubahan yang dilakukan dapat dianalisis secara deskriptif.AbstractThis paper is motivated by a case study of the Tiga Wanita theater performance. As a show, Tiga Perempuan has the potential to be made into a film. This change from stage media to film screens can be called the transfer of rides, a source of initial ideas that the directors can respond to. Tiga Wanita departed from the issue of cultural resilience. Women as actors in the art of saluang dendang are appointed as creative ideas by stringing conflict plots using multiplot stages. This change can be seen in how the construction of cinematography and mise-en-scene can be used. Using film theory and transfer of rides, the possible choices and offers in responding to the theatrical performance, one of them, is using qualitative data that has been obtained in the field so that the changes made can be analyzed descriptively.
Copyrights © 2021