Enrico Alamo
Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

THE PLAY OF MONOLOGUE PUTU WIJAYA; CREATIVE PROCESS AND PERIOD OF WRITING ENRICO ALAMO
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 1 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.516 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v22i2.1020

Abstract

Putu Wijaya is one of the most important Indonesian playwrights in writing, both; short stories, novels, drama scripts, and even monologue scripts. At the moment the manuscript is published, published 118 titles published in the book "100 Monologue Works: Putu Wijaya". On the sidelines of his recovery, Putu Wijaya who was plagued by a brain hemorrhage due to a mild stroke was still an actor performing a monologue script titled "OH". Being born as one of the Balinese aristocracies did not make Putu Wijaya remain in his caste, even the days were filled with authorship, he never gave up. Do not want the gnawing disease to stop the field being cultivated. Long before the Japanese occupation of Indonesia, Putu Wijaya's tenacity was seen in defending the world of authorship. This research on Putu Wijaya is grouped based on creativity and the periodization of Putu Wijaya from its inception
“TIGA PEREMPUAN” ALIH WAHANA TEATER KE FILM ALAMO, ENRICO; WAHYUNI, SRI
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 1 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.7 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i1.1634

Abstract

AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh studi kasus terhadap pertunjukan teater Tiga Perempuan. Sebagai suatu pertunjukan, Tiga Perempuan memiliki potensi untuk diangkat menjadi sebuah karya film. Perubahan dari media panggung ke layar film ini bisa disebut alih wahana merupakan sumber gagasan awal yang dapat direspon oleh para sutradara. Tiga Perempuan berangkat dari isu ketahanan budaya. Perempuan sebagai pelaku dalam kesenian saluang dendang diangkat menjadi gagasan kekaryaan dengan merangkai alur konflik menggunakan tahapan multiplot. Perubahan ini dapat dilihat bagaimana kontruksi sinematografi dan mise-en-scene yang dapat digunakan. Menggunakan teori film dan alih wahana, maka pilihan dan tawaran yang memungkinkan dalam merespon pertunjukan teater tersebut salahsatunya, menggunakan data kualitatif yang telah didapatkan di lapangan, sehingga perubahan yang dilakukan dapat dianalisis secara deskriptif.AbstractThis paper is motivated by a case study of the Tiga Wanita theater performance. As a show, Tiga Perempuan has the potential to be made into a film. This change from stage media to film screens can be called the transfer of rides, a source of initial ideas that the directors can respond to. Tiga Wanita departed from the issue of cultural resilience. Women as actors in the art of saluang dendang are appointed as creative ideas by stringing conflict plots using multiplot stages. This change can be seen in how the construction of cinematography and mise-en-scene can be used. Using film theory and transfer of rides, the possible choices and offers in responding to the theatrical performance, one of them, is using qualitative data that has been obtained in the field so that the changes made can be analyzed descriptively.
Naki-Naki: Oral Tradition of the Karo of North Sumatra Minawati, Rosta; Alamo, Enrico
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 6, No 4 (2023): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v6i4.7791

Abstract

The purpose of this article entitled "Naki-naki: Oral Tradition of the Karo Tribe in North Sumatra" is to examine the context of the traditional courtship system among the young people using oral tradition (oral literature) in the Karo community that developed in ancient times. The Karo community has a unique tradition in finding a life partner. Karo youths, whether male or female, are encouraged to marry (erjabu) as soon as they reach adulthood. Adult males are referred to as "anak perana" and are identified by characteristics such as wearing long pants (saluar gedang) and sleeping in the traditional Karo building called "jambur." Adult females are known as "singuda-nguda" and are identified by characteristics such as menstruation, participation in youth work groups, including communal activities and involvement in artistic festivals (guro-guro-aron).The stages of introduction between young people begin with the tradition of "ngaras-ngaras" and continue with "ertutur." Ertutur can be done with the help of friends, family intermediaries, or directly. The introduction then progresses to a stage known as "Naki-naki." Naki-naki is the moment when the "anak perana" endeavors to convince the "singuda-nguda" to fully accept him for marriage. Naki-naki involves using the eloquent Karo language and is often done at night on the terrace of the house ("ture") or inside the house. The goal is for the couple and their families to get to know each other well.
The Playing Of Vasilli Svietlovidoff's Character In Anton P. Chekhov's Swan Song Translation Of Djohan A Nasution With Method Of Acting The Stanislavski System Lubis, Abdul Haris; Susanti, Desi; Alamo, Enrico
Creativity And Research Theatre Journal Vol 5, No 2 (2023): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v5i2.4110

Abstract

Playing the character Vasilli Svietlovidoff in the script "Nyanyian Angsa" by Anton P. Chekhov, translated by Djohan A Nasution, is an effort to bring the character to life for performance. The formulation presented in this context is how to analyze the character of Vasilli Svietlovidoff and how to portray the character using Stanislavski's The System method. This conceptual framework employs a representational approach to realize a performance in a realistic style. The correlation between realism and The System method accommodates the actor to bring the character Vasilli Svietlovidoff to life realistically.
PELATIHAN KELOMPOK SANDIWARA DAN PEMANTAPAN MANAJEMEN KELOMPOK DI KELURAHAN GANTING PADANGPANJANG, SUMATERA BARAT Alamo, Enrico; Susanti, Desi; Saaduddin, Saaduddin
Batoboh Vol 3, No 1 (2018): Batoboh: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v3i1.377

Abstract

Ganting Kenagarian Ekor Lubuk Padang Panjang Timur dulunya memiliki kelompok sandiwara yang ditemukan pentasnya pada acara pemuda maupun hajatan kampung, sayangnya kelompok sandiwara ini tidak aktif lagi bahkan tidak terdengar dalam bentuk grup. Faktor utama yang melatari hilangnya kesenian sandiwara ini karena minimnya pengetahuan dan pengkaderan anggota. Beberapa wawancara yang dilakukan, ada kerinduan pada kelompok sandiwara ini, agar kelompok sandiwara tersebut dapat tumbuh dan berkembang kembali. Pelaku sandiwara di kelurahan Ganting saat ini sebagian besar berusia 50-70 tahun. Menjawab hal ini diperlukan pelatihan-pelatihan sandiwara meliputi manajemen maupun artistik yang diharapkan dapat menyesuaikan pada zaman masa sekarang.
Analisis Struktur Pertunjukan Opera Batak Sisingamangaraja XII: Episode Tongtang I Tano Batak Sulaiman, Sulaiman; Minawati, Rosta; Alamo, Enrico; Novalinda, Sherli
PANGGUNG Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.908

Abstract

ABSTRACTOpera Batak is a “traditional” performance genre from the Toba Batak ethnic group. Opera Batak is staged based on oral tradition through acting, music and dance. The creation of works aims to preserve Sisingamangaraja XII's historical values. The method is carried out beginning with research through observation, interviews, literature studies with steps to work on the search phase, the stage of giving content, the development stage, and the stabilization stage.Transitions of performers and sections are accompanied musical instruments including gondang, suling, serunai, kedapi, hesek, odap and garantung. This mixture is intended to bring the drama to life and entertain the audience. The figures in Opera Batak are Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut and Panglima Amandopang. his episode tells how the war against the Dutch company in the Batak land for about 30 years. Arranged with a flow, dramatic, and conflicting conflict to show Sisingamangaraja's humanity and kinship side in the face of war.Key Word: Opera Batak, Theater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano BatakABSTRAKOpera Batak merupakan seni pertunjukan ‘tradisi’ dalam masyarakat Batak.Opera Batak ditampilkan melalui sastra lisan, pemeranan, musik, dan tarian. Penciptaan karya bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan Sisingamangaraja XII. Metode dilakukan diawali dengan riset melalui observasi, wawancara, studi pustaka dengan langkah garap; tahap pencarian, tahap memberi isi, tahap pengembangan, dan tahap pemantapan. Opera Batak dipandu pencerita dalam mengenalkan tema, menyapa penonton, menggambarkan kisah, dan menggenalkan pemain. Peralihan pemain dan bagian diiringi musik yang terdiri atas: gondang, suling, sarunai, kecapi, hesek, odap, dan garantung. Tokoh Opera Batak dalam episode Tongtang I Tano Batak adalah Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut, dan Panglima Amandopang. Episode ini menceritakan bagaimana perperangan melawan kompeni Belanda di tanah Batak yang kurang lebih 30 tahun lamanya. Disusun dengan alur, dramatik, dan konflik yang rapat untuk memperlihatkan sisi kemanusian dan kekeluargaan Sisingamangaraja dalam menghadapi perperangan.Kata Kunci: Opera Batak, Teater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak 
Pemeranan Tokoh Agus Tubagus dalam Naskah Pinangan Karya Anton P. Chekov Saduran Suyatna Anirun Menggunakan Metode Akting Stanislavsky Wardana, Aditiya; Alamo, Enrico; Sulaiman, Sulaiman
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Cerano Seni: Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v5i1.27795

Abstract

The role of the character Agus Tubagus in the Pinangan script by Anton P. Chekov adapted by Suyatna Anirun is a form of creative effort carried out by the actor to realize the character of Agus Tubagus which is based on the interpretation of the character performed on stage, the embodiment of the character Agus Tubagus uses the Stanislavsky acting method Magic If approach. The process of realizing the character of Agus Tubagus uses methods including; observation, identifying the character, developing the character, animating the character, controlling emotions and dressing the character. The Pinangan script by Anton P. Chekov adapted by Suyatna Anirun contains a story of social reality about a 30-year-old man, Agus Tubagus, who wants to propose to a girl named Ratna Rukmana.