Kerajaan Majapahit dan hubungannya dengan Cina memperlihatkan penyelenggaraan kebijakan-kebijakan yang tidak selalu berjalan dengan harrnonis. Hal ini tidak lepas dari kondisi latar belakang masing-masing kerajaan. Ketidakstabilan politik, baik dalam maupun luar negeri ditandai dengan adanya kesalahpahaman, pemberontakan atau peperangan dan terputusnya hubungan bilateral antara Majapahit-Cina. Namun demikian, data arkeologis menunjukkan gejala yang menarik bahwa faktor politik tidak memberikan dampak yang berarti terhadap aspek sosial-ekonomi. Keramik Yuan yang ditemukan melimpah di Situs Trowulan --khususnya di Sektor Nglinguk, Sentonorejo, dan Pendopo Agung-- membuktikan bahwa aktivitas pertukaran ataupun perdagangan tetap berlangsung secara efektif. Kelangsungan aktivitas ini diduga terjadi karena penggunaan dua metode pertukaran/ perdagangan, yaitu legal dan illegal, yang dilakukan oleh para pedagang yang sering singgah di Majapahit.
Copyrights © 2002