Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LANSKAP DAN KRONOLOGI HUNIAN KUNO TEWAH PUPUH, KABUPATEN BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH [THE LANDSCAPE AND CHRONOLOGY OF TEWAH PUPUH, AN ANCIENT SETTLEMENT SITE IN BARITO TIMUR REGENCY, CENTRAL KALIMANTAN] nFn Sunarningsih; nfn Hartatik; Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi Vol. 6 No. 1 (2020): KINDAI ETAM
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/ke.v6i1.63

Abstract

Situs pemukiman kuno ini berada di Desa Tewah Pupuh, Kecamatan Banua Lima, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian arkeologi sudah beberapa kali dilakukan di wilayah Kabupaten Barito Timur, tetapi situs pemukiman kuno ini belum pernah diteliti. Masyarakat meyakini bahwa situs ini merupakan tempat tinggal salah satu tokoh penting pada zamannya, yaitu Patis Uwey, yang juga menjadi salah satu cikal bakal pembentukan Kademangan Banua Lima. Keberadaan situs ini diketahui dari informasi masyarakat yang diteruskan oleh dinas setempat kepada Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, dengan temuan berupa fragmen keramik asing. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui lanskap dan kronologi relatif pemukiman kuno di situs Tewah Pupuh. Metode yang digunakan adalah survei, ekskavasi, wawancara, pemetaan, dan studi pustaka. Hasil penelitian memberi gambaran bahwa pemukiman kuno milik Patis Uwey di situs Tewah Pupuh berada di bukit kecil yang dikelilingi oleh aliran sungai yang bermuara di Sungai Tabalong. Kronologi berdasarkan hasil analisis fragmen keramik dan penelusuran data sejarah berada di antara abad ke-14 sampai ke-19 Masehi. The ancient settlement site is located in Tewah Pupuh Village, Banua Lima District, Barito Timur Regency, Central Kalimantan Province. Archaeological research has been conducted several times in the area of Barito Timur Regency, but the ancient settlement site has never been studied. The community believes that the site is residence of the important figures, namely Patis Uwey, who also became a forerunner to the formation of Banua Lima Kademangan. The existence of this site is known from public information that was forwarded by the local service to Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, with the findings of foreign ceramic fragments. The research conducted at Tewah Pupuh aims to determine landscape and its chronology (relative dating). The methods used are survey, excavation, interview, mapping, and literature study. The results of the study illustrate that the ancient settlement owned by Patis Uwey was built on a small hill surrounded by a river that empties into the Tabalong River. The relative chronology based on ceramic analyses and historical data came up from 14th to 19th Century.
Mayoritas Keramik Yuan Di Trowulan: Kontra Realita Hubungan Majapahit – Cina Pada Abad Ke 13-15 Masehi Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1749.368 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.847

Abstract

Kerajaan Majapahit dan hubungannya dengan Cina memperlihatkan penyelenggaraan kebijakan-kebijakan yang tidak selalu berjalan dengan harrnonis. Hal ini tidak lepas dari kondisi latar belakang masing-masing kerajaan. Ketidakstabilan politik, baik dalam maupun luar negeri ditandai dengan adanya kesalahpahaman, pemberontakan atau peperangan dan terputusnya hubungan bilateral antara Majapahit-Cina. Namun demikian, data arkeologis menunjukkan gejala yang menarik bahwa faktor politik tidak memberikan dampak yang berarti terhadap aspek sosial-ekonomi. Keramik Yuan yang ditemukan melimpah di Situs Trowulan --khususnya di Sektor Nglinguk, Sentonorejo, dan Pendopo Agung-- membuktikan bahwa aktivitas pertukaran ataupun perdagangan tetap berlangsung secara efektif. Kelangsungan aktivitas ini diduga terjadi karena penggunaan dua metode pertukaran/ perdagangan, yaitu legal dan illegal, yang dilakukan oleh para pedagang yang sering singgah di Majapahit.
AGTA AND PUNAN: SURVIVING HUNTER-GATHERERS IN SOUTHEAST ASIA (AGTA DAN PUNAN: SISA-SISA POPULASI PEMBURU DAN PERAMU DI ASIA TENGGARA) Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
AMERTA Vol. 24 No. 1 (2006)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MAYORITAS KERAMIK YUAN DI TROWULAN: KONTRA REALITA HUBUNGAN MAJAPAHIT €“ CINA PADA ABAD KE 13-15 MASEHI Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Berkala Arkeologi Vol. 22 No. 1 (2002)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v22i1.847

Abstract

The Majapahit Empire and its relationship with China demonstrated the implementation of policies that did not always work harmoniously. This is inseparable from the background conditions of each kingdom. Political instability, both at home and abroad, was marked by misunderstandings, rebellions or wars and the severance of bilateral relations between Majapahit and China. However, archaeological data show an interesting phenomenon that political factors do not have a significant impact on socio-economic aspects. Yuan ceramics that were found in abundance at the Trowulan Site - especially in the Nglinguk, Sentonorejo, and Pendopo Agung Sectors - prove that exchange or trading activities continue to be effective. The continuation of this activity is thought to have occurred due to the use of two methods of exchange / trade, namely legal and illegal, which were carried out by traders who often stopped by in Majapahit.