Ide tentang tajdid dan munculnya mujaddid setiap satu abad sebagaimana disebut dalam satu hadis Nabi merupakan satu faham yang dianut secara meluas, termasuk kalangan masyarakal Islam di lndia. Salah seorang yang dipandang sebagai mujadid untuk milinium kedua adalah Syeh Ahmad Sirhindi. Menurut sebagian besar, jika tidak semua, karya-karya tentang Sirhindi, gerakan tajdid tersebut terutama disebabkan oleh praktek keagamaan masyarakal lndia yang dipandang telah jauh dari ajaran lslam yang sebenarnya; masyarakat setempat dipandang sering kali melakukan praktek-praktek bid'ah dan khurafat bahkan tidak jarang melakukan sesuatu yang justru cenderung menghancurkan Islam. Semua praktek tersebut semakin subur terutama sejak naiknya Akbar ke tahta Kerajaan Mughal, sehingga melahirkan pandangan bahwa Akbar telah keluar dari Islam. Yang menarik, makalah berikut mempertanyakan kembali tesis yang sudah mengakar itu. Dengan menelusuri data-data sejarah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan pada masa Akbar dan Sirhindi, penulis makalah sampai pada kesimpulan bahwa tesis tersebut tidak bisa diterima, paling tidak masih memerlukan penelitian lebih jauh. Untuk mendukung tesisnya Penulis menujukkan bahwa perbedaan antara Akbar di satu sisi dan Sirhindi di sisi yang lain lebih banyak disebabkan oleh pertentangan elit yang lebih terorientasi politik dan bukan persoalan keagamaan; atau bukan pertentangan antara pandangan non-Muslim (Akbar) dan Muslim (Sirhindi) tapi lebih antara satu pemahaman dengan pemahaman yang lain tentang ajaran Islam' Akibat tulisan berikut cukup serius: klaim bahwa Sirhindi merupakan mujaddid pada milinium kedua adalah kurang didukung oleh data sejarah yang bisa diterima sebagian besar, jika tidak semua sejarawan.
Copyrights © 1999