Salah satu sumber penting untuk memahami Islam adalah figur Nabi Muhammad SAW, dan ia telah menjadi obyek kajian dalam studi keislaman, termasuk di kalangan Orientalis. Seperti biasa, kaiian ilmiah terhadap satu persoalan tidak selalu melahirkan pandangan yang sama, dan hal ini juga Nampak pada kajian Orientalis tentang figure Muhanunad yang menjadi focus telaah makalah berikut. Secara garis besar pandangan mereka terbagi menjadi dua kubu; pertama seperti terlihat pada karya-karya W. Montgomery Watt dan kedua tergambar pada karya-karya Michael Cook. Dari satu sisi. Keduanya dapat dikatakan menggunakan pendekatan yang sama, yakni non-normative atau empeical approach; namun dari sisi lain keduanya dapat dikatakan berbeda karena ternyata keduanya memilih model empirical yang berbeda: Watt menganut irenic dan phenomenological approach yang sangat menghargai data-data tertulis warisan Islam; sedangkan Cook menggunakan a source-critical approach yang Pada dasarnya amat meragukan data-data tertulis warisan Islam dan lebih memilih data-data yang berasal dari non-muslim dan juga data arkeologi. Perbedaan pendekatan ini membawa pada kesimpulan yang berbeda pula, jika tidak dikatakan bertentangan. Watt cenderung melahirkan kesan (image) positif tentang Muhamrnad dan hampir sejalan dengan pandangan umum kalangan Muslim. Sebaliknya, Cook cenderung melahirkan image negatif tentang Muhammad terutama tentang hubungannya dengan masyarakat Yahudi pada saat itu. Artikel berikut menjadi sangat menarik karena mengkaji sejauh mana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan yang digunakan sekaligus mengkritisi penggunaan pendekatan tesebut terhadap data-data tentang Muhammad dan hubungannya dengan Yahudi (non-Muslim). Pada akhimya makalah berikut menyarankan, bahwa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan obyektif tentang figur Muhammad di kalangan Orientalis masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Copyrights © 1999