Fatimah Husein
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Image of The Prophet In The Contemporary Western Scholarship: A Study of W. M. Watt’s and M.Cook’s Thought Fatimah Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.151-166

Abstract

Salah satu sumber penting untuk memahami Islam adalah figur Nabi Muhammad SAW, dan ia telah menjadi obyek kajian dalam studi keislaman, termasuk di kalangan Orientalis. Seperti biasa, kaiian ilmiah terhadap satu persoalan tidak selalu melahirkan pandangan yang sama, dan hal ini juga Nampak pada kajian Orientalis tentang figure Muhanunad yang menjadi focus telaah makalah berikut. Secara garis besar pandangan mereka terbagi menjadi dua kubu; pertama seperti terlihat pada karya-karya W.  Montgomery Watt dan kedua tergambar pada karya-karya Michael Cook. Dari satu sisi. Keduanya dapat dikatakan menggunakan pendekatan yang sama, yakni non-normative atau empeical approach; namun dari sisi lain keduanya dapat dikatakan berbeda karena ternyata keduanya memilih model empirical yang berbeda: Watt menganut irenic dan phenomenological approach yang sangat menghargai data-data tertulis warisan Islam; sedangkan Cook menggunakan a source-critical approach yang Pada dasarnya amat meragukan data-data tertulis warisan Islam dan lebih memilih data-data yang berasal dari non-muslim dan juga data arkeologi. Perbedaan pendekatan ini membawa pada kesimpulan yang berbeda pula, jika tidak dikatakan bertentangan. Watt cenderung melahirkan kesan (image) positif tentang Muhamrnad dan hampir sejalan dengan pandangan umum kalangan Muslim. Sebaliknya, Cook cenderung melahirkan image negatif tentang Muhammad terutama tentang hubungannya dengan masyarakat Yahudi pada saat itu. Artikel berikut menjadi sangat menarik karena mengkaji sejauh mana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan yang digunakan sekaligus mengkritisi penggunaan pendekatan tesebut terhadap data-data tentang Muhammad dan hubungannya dengan Yahudi (non-Muslim). Pada akhimya makalah berikut menyarankan, bahwa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan obyektif tentang figur Muhammad di kalangan Orientalis masih diperlukan penelitian lebih lanjut. 
The Image of The Prophet In Ibn Sīnā’s Thought Fatimah Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.82-103

Abstract

Artikel ini menganalisa gambaran tentang Nabi Muhammad dalam pandangan salah seorang filosof Muslim terbesar, Ibn Sinā. Penelitian tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran tersebut secara menyeluruh sebagaimana yang dapat kita temukan dalam karya-karya lbn Sinā, tetapi hanya dibatasi pada dua karyanya, yaitu Fī Ithbāt al-Nubuwwat  dan Metaphysics x (al-Ilāhiyyāt) dalam at-shifā’,dengan merujuk pada beberapa tulisannya yang terkait. Kedua karya tersebut menyajikan dua ekspresi yang berbeda atas Nabi. Dalam karyanya yang pertama, Ibn sinā menggunakan terma-terma yang sangat filosofis untuk menggambarkan sosok Muhammad, walaupun dia juga tidak menafikan bahasan agamis. Memang benar bahwa tujuan ditulisnya risalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang argumentasi logis dan bukti dialektis atas eksistensi Nabi sehingga terkesan bahwa bisa jadi Ibn Slna sendiri tidak percaya akan bukti atas kenabian secara filosofis. Tetapi jika kita cermati lebih jauh, kondisi Ibn Sinā sendiri sebagai Muslim yang sekaligus seorang filosof sebenarnya ikut membentuknya untuk menghadirkan gambaran tentang Muhammad secara filosofis sekaligus Islamis. Gambaran Nabi sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dan sebagai pemelihara hukum Allah bagi kesejahteraan manusia nampak secara jelas dalam karyanya yang kedua. Dengan merujuk pada kehidupan sosial, Ibn Sinā menggambarkan bahwa Muhammad harus menentukan hukuman dan larangan untuk mencegah ketidak taatan terhadap hukum Tuhan, serta membina kehidupan moral. Jelaslah bahwa figur Nabi di sini digambarkan secara lebih relijius. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa sosok Muhammad muncul secara berbeda pada dua risalah tersebut. Kita melihat bahwa definisi tradisional tentang peran Nabi tidak dapat memuaskan Ibn Sinā sebagai seorang filosof, sehingga dalam tulisan yang pertama ia lebih menghadirkan figur Muḥammad secara filosofis. Dalam tulisan kedua" nampak bahwa sebenarnya Ibn Sinā tidak dapat melepaskan diri dari kenyataannya sebagai seorang Muslim, sehingga ia perlu menjelaskan pada dirinya sendiri dan pada ummat Islam pada umumnya tentang peran Nabi sebagai seorang pemimpin sosial. Terlebih lagi lingkungan Islamnya "memaksa" Ibn Sinā untuk mengharmoniskan antara penyelidikan rasionalnya dengan ajaran-ajaran Islam.