Hermeneutika Henry Corbin tumbuh dari pemahamannya atas filsafat Barat, khususnya pemikiran metafisika Heidegger. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, Corbin lebih tertarik kepada filsafat Timur dan mentransformasikan hermeneutika Heidegger ke dalam hermeneutika spiritual. Postulat pertama dari "interpretasi spiritual" (spiritual interpretation, hermeneutique esoterique, atau ta'wil) ini adalah kepercayaan bahwa dalam segala sesuatu yang nyata (ẓāhir) terdapat sesuatu yang tersembunyi dan bersifat spiritual (bāṭin). Begitu pula, agama memiliki dua aspek, yaitu ẓāhir dan bāṭin. Corbin menegaskan bahwa untuk melacak makna yang benar dan tersembunyi dari agama ini hanya dapat dilakukan dengan cara ta'wil. Penting untuk digarisbawahi bahwa interpretasi spiritual bukan merupakan interpretasi alegoris. Dalam pemahaman Corbin, alegori merupakan representsi artifisial dari abstraksi-abstraksi yang dapat diekspresikan dengan cara-cara lain. Sedangkan simbol merupakan satu-satunya ekspresi yang mungkin bagi yang disimbolkan. Interpretasi yang membawa aspek-aspek dari agama ini kepada aspek esoteriknya, oleh Corbin disebut "fenomenologi". Fenomenologi ini berarti "menyingkap penutup" atau kashf al'mahjūb, yang tidak memiliki hubungan dengan aliran fenomenologi di Barat. Fenomenologi inilah yang merupakan metode interpretasi Corbin. Dengan metode ini ia ingin menolak historisisme yang mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah ke dalam waktu historisnya dan menjelaskan peristiwa tersebut sebagai produk keadaan atau lingkungannya.
Copyrights © 1998