Tulisan ini mengkaji komunitas Bissu yang merupakan pendeta agama tradisional yang dianut masyarakat Bugis di masa lalu. Dalam naskah La Galigo, ketika Batara Guru diturunkan dari Langit untuk mengisi ‘kekosongan’ Dunia Tengah, dan dimunculkan dari Dunia Bawah seorang perempuan untuk menjadi pasangannya, maka diturunkan pulalah Puang Matoa Bissu Lae-Lae untuk mendampangi mereka dan mengatur bagaimana semestinya kehidupan dilangsungkan. Bissu hidup di tengah masyarakat Bissu sejak zaman pra-Islam, mereka hidup di kerajaan sebagai penasihat, penentu hari baik, serta dukun. Waktu mengubah banyak hal, termasuk Bissu yang bergerak seiring zaman, berubah, dan menyesuaikan diri. Menurut Barthes, mitos adalah bentuk makna. Namun mitos berbeda dari ucapan dan bahasa biasa. Barthes mengikuti pandanfan de-Saussure mengenai sifat dari tanda linguistik dan ia menandai mitos sebagai kelas kedua dari penandaan. Bissu dalam pandangan mitos Roland Barthes, merupakan produk budaya yang di konstruksi secara sedemikian rupa, dari waktu ke waktu, sehingga menciptakan mitos di tengah masyarakat yang “mengalaminya”. Perubahan sosial dan budaya juga menggiring mitos modern untuk bergeser dari pemaknaan masyarakat. Posisi bissu dalam masyarakat Bugis merupakan contoh konkret atas perubahan yang dimaksud.
Copyrights © 2021